KONFLIK internal yang melanda Partai Golkar belum juga menemukan titik penyelesaian konkret. Kedua pihak yang bertikai mengisyaratkan ingin melakukan islah khusus untuk dapat mengikuti pemilihan kepala daerah (pilkada), tetapi belum ada kesepakatan soal format islah.
Baik kubu Agung Laksono maupun kubu Aburizal Bakrie (Ical) terlihat berupaya keras untuk bertahan pada posisi masing-masing. Kubu Agung ingin format islah mengacu kepengurusan Golkar hasil Munas Jakarta yang telah terdaftar di Kemenkum dan HAM. Sebaliknya, kubu Ical berkeras agar islah berpedoman pada kepengurusan hasil Munas Riau 2009 seperti yang diputuskan PTUN.
Wakil Ketua Umum Golkar versi Munas Jakarta, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyatakan pihaknya berharap islah tidak disisipi syarat tertentu. "Bisa saja (islah), asal tidak ada syarat lain, misalnya kami tidak boleh banding atas keputusan PTUN," ujarnya di Jakarta, kemarin.
Ia menyatakan islah terbatas hendaknya hanya untuk menghadapi pilkada. "Karena ini islah terbatas, hanya untuk menghadapi pilkada. Mengenai kepengurusan, kita serahkan ke proses hukum. Oleh sebab itu, kita banding," tegasnya.
Direktur Eksekutif Populi Center Nico Harjanto menilai islah khusus akan sia-sia karena pilkada tanpa satu kepengurusan tunggal hanya akan memperlebar masalah.
Islah semacam itu, jelasnya, berarti kedua kubu akan melakukan pembagian kader beserta daerah pencalonan kepala daerah. Ketika kedua kubu tidak mendapatkan kesamaan pandangan, peluang perseteruan baru justru akan muncul.
"Karena sangat mungkin nanti kedua kubu ngotot memasukkan nama-nama untuk dicalonkan di pilkada dan yang enggak dicalonkan akan ada yang menggugat," ungkap Nico.
Ia berharap kedua kubu segera melakukan islah komprehensif. Di antaranya membentuk kepengurusan tunggal, membenahi rotasi anggota fraksi yang belum selesai, dan pencalonan kader di pilkada.
"Golkar sebagai partai terbesar kedua tidak boleh dikelola dengan sistem arisan atau jatah-jatahan," terangnya.
Selamatkan kader Ketua DPP Golkar hasil Munas Bali, Tantowi Yahya, meminta kubu Agung tidak perlu mencurigai ajakan islah yang ditawarkan kubu Ical. Menurutnya, tawaran islah itu penting untuk menyelamatkan kader Golkar di daerah agar dapat mengikuti pilkada serentak.
"Yang penting itu kesamaan kehendak. Jangan subuh-subuh itu sudah dicurigai, enggak jadi barang itu," ucap Tantowi.
Ia mengatakan yang terpenting saat ini, kedua kubu harus sepakat untuk bersama-sama menghadapi pilkada. Soal kepengurusan siapa yang nantinya digunakan untuk mendaftar ke KPU bukan menjadi soal utama.
"Teknis itu kan will follow apabila sudah terjadi kesepakatan. Ini islah politik dalam rangka menyelamatkan kader-kader itu," imbuhnya.
Berkenaan dengan rencana islah tersebut, mantan Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla, tadi malam, mengundang Agung Laksono guna menyampaikan hasil pertemuannya dengan Aburizal Bakrie. (Wib/P-3)