Keraton Yogyakarta Diharap tidak Pecah

11/5/2015 00:00
Keraton Yogyakarta Diharap tidak Pecah
Sri Sultan Hamengku Bawono X menjelaskan Sabda Raja dan Dhawuh Rajadi Ndalem Wironegaran(MI/Ardi)
POLEMIK setelah Sri Sultan Hamengku Bawono X mengeluarkan Sabda Raja Kamis (30/4) dan Dhawuh Raja Selasa (5/5) terus berlanjut. Kendati demikian, Juru Kunci Sepuh Makam Ki Ageng Giring III, Penewu Surakso Sartoyo, berharap Keraton Yogyakarta tidak mengalami perpecahan.

"Kalau membatalkan itu, saya tidak tahu seperti apa akibatnya nanti. Saya berdoa semoga keraton dan masyarakat tenteram," kata Surakso di Makam Ki Ageng Giring III di Desa Sodo, Gunungkidul, kemarin.

Warga masyarakat yang tergabung dalam Jamaah Nahdliyin Mataram dan warga Muhammadiyah kemarin menggelar doa bersama di Kompleks Makam Raja-Raja di Kotagede.

"Suksesi itu urusan internal keraton. Hanya kami prihatin dengan Sabda Raja yang menghapus gelar ngabdurrahman sayidin panatagama khalifatullah," ujar Koordinator Nahdliyin Mataram Muhamad Alfu Niam.

Menurut Alfu, gelar ngabdurrahman sayidin panatagama khalifatullah merupakan penanda keselarasan dunia batin Islam dan Jawa. Keraton Mataram berdiri di atas dunia batin dan dihidupi oleh budaya Islam Jawa. "Itu satu kesatuan dengan eksistensi Keraton Mataram."

Ahmad Charis Zubair, budayawan yang juga warga Muhammadiyah, menyayangkan perubahan gelar Sultan. Buwono sama artinya dengan kewajiban bagi seluruh manusia menjaga bumi (khalifah fil ard).

Namun, Bawono berarti lebih besar atau alam semesta. "Tugas manusia cukup mengelola bumi. Alam semesta itu kewenangan Allah SWT."

Adik Sultan Hamengku Bawono X, GBPH Yudhaningrat, menambahkan, Sabda Raja dan Dhawuh Raja tersebut batal demi hukum karena tidak sesuai dengan paugeran (pedoman) pokok Keraton Yogyakarta. Adik-adik Sultan berencana menyampaikan sikap mereka dalam waktu dekat.

"Memaksakan GKR Mangkubumi menjadi putri mahkota akan menghilangkan dinasti Hamengku Buwono yang selama ini memimpin Keraton Yogyakarta. Pasalnya, Keraton Yogyakarta melanjutkan khalifah Mataram yang berdasar pada nasab patriarki," ujar Yudhaningrat.

Sultan saat menjelaskan Sabda Raja dan Dhawuh Raja di Ndalem Wironegaran menyampaikan perubahan membawa konsekuensi setuju atau tidak setuju. Hal tersebut dinilai biasa. "Untuk bisa memahami itu (Sabda Raja dan Dhawuh Raja), yang diutamakan bukan pikiran, melainkan rasa (penggalih)." (AT/X-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya