RENCANA pembangunan gedung baru DPR, yang antara lain terdiri dari perpustakaan, museum, dan pusat penelitian, dinilai tidak sesuai dengan skala prioritas kebutuhan dewan saat ini.
Apalagi, perpustakaan yang ada di gedung parlemen selama ini tidak pernah digunakan secara maksimal.
"Saya tidak yakin dengan gedung perpustakaan dan museum yang baru akan mengubah kinerja. DPR sekarang kan sudah punya museum dan perpus, tapi sepi pengunjung. DPR bisa gunakan fasilitas yang ada secara maksimal tanpa harus membuang biaya untuk membangun yang baru," tegas peneliti Forum Masyarakat Pemantan Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, rencana pembangunan gedung baru itu merupakan sinyalemen bahwa pengadaan fasilitas di DPR bukan berdasarkan kebutuhan.
Bila DPR memang mempunyai minat baca yang tinggi, tidak perlu harus ada perpustakaan baru dan mewah. Mereka bisa membaca di mana saja dengan fasilitas apa saja.
Fakta selama ini, sambung Lucius, minat baca para ang-
gota anggota dewan sangat minim.
Bahkan, staf ahli yang semestinya wajib membaca juga tidak banyak menunjukkan keseriusan untuk memanfaatkan perpustakaan DPR sebagai fasilitas utama untuk menambah ilmu atau riset.
"Rencana membangun perpustakaan dan research centre bukan karena DPR membutuhkan perpustakaan dan research centre. Motivasi awal ialah proyek, dan kebetulan ruang perpustakaan paling bisa menjadi tameng untuk menutupi nafsu akan proyek yang ada pada sebagian kalangan di parlemen," tandasnya
Idealnya, kata Lucius, pembangunan parlemen harus dilakukan secara komprehensif dan melibatkan partisipasi luas masyarakat.
Parlemen sebagai ikon nasional, sambungnya, tak bisa hanya di desain secara sepihak oleh DPR.
"DPD dan masyarakat sebagai pemilik parlemen yang sesungguhnya harus dilibatkan," pungkasnya.
Sekretaris F-PDIP DPR, Bambang Wuryanto, menyatakan pembangunan tersebut merupakan salah satu upaya dari pemimpin DPR saat ini agar kiprah mereka bisa dikenang publik.
"Bagaimana pun setiap pemimpin ingin menorehkan prestasi khusus agar bisa diingat oleh banyak orang. Itu baik-baik saja karena menciptakan sesuatu yang bersifat monumental," ujarnya.