Periksa Mary Jane lewat Telekonferensi

Ind/Pol/ABC/Hym/X-5
02/5/2015 00:00
Periksa Mary Jane lewat Telekonferensi
Jaksa Agung HM Prasetyo(ANTARA/Ismar Patrizki)

TERPIDANA mati Mary Jane Veloso akan menjalani pemeriksaan terkait dengan kasus perdagangan manusia yang berlangsung di Filipina pada 8 dan 14 Mei mendatang. Untuk kepentingan itu, Kejaksaan Agung memberikan izin pemeriksaan lewat telekonferensi.

"Mereka (penegak hukum Filipina) meminta Mary Jane hadir memberikan keterangan langsung. Namun, kita tawarkan dengan telekonferensi saja," kata Jaksa Agung Prasetyo di Jakarta, Kamis (30/4),

Prasetyo kembali menegaskan proses hukum di Filipina itu tidak menghalangi eksekusi mati Mary Jane.

"Yang perlu dipahami, yang ditunda eksekusinya bukan putusannya."

Soal kapan eksekusi Mary Jane dilaksanakan, Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Tony Spontana menyatakan setelah semua proses selesai. Itu termasuk dengan terpidana mati asal Prancis Serge Areski Atlaoui.

Soal fasilitas telekonferensi itu juga disampaikan Wapres Jusuf Kalla di Istana Wakil Presiden.

"Dia dalam keadaan terhukum di Indonesia," tegasnya.

Kalla berharap proses hukum di Filipina dapat berjalan lancar sehingga penundaan eksekusi mati tidak lama.

Ia memastikan, apa pun hasil penyidikan aparat hukum Filipina, pemerintah tetap mengeksekusi Mary Jane.

Pada bagian lain, PM Australia Tony Abbott berharap hubungan Australia dengan Indonesia segera pulih kembali. Padahal, sebelumnya Abbott berusaha keras untuk membebaskan dua warganya dari eksekusi mati.

"Meskipun begitu, banyak kemarahan warga Australia, pada akhirnya, itu merupakan kepentingan terbaik semua orang bahwa hubungan ini dapat dipulihkan secepat mungkin," ujarnya, kemarin.

Namun demikian, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terpaksa membatalkan kunjungannya ke Perth, Australia, untuk memberikan pidato dalam forum kerja sama kawasan Indo-Pasifik In The Zone 2015 di kampus University of Western Australia (UWA).

"Saya sangat ingin datang, tetapi saat ini merupakan waktu yang sangat sensitif, terkait dengan eksekusi mati dua warga Australia," tulis SBY sebagaimana dibacakan chancellor UWA, Michael Chaney AO, kemarin.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya