Kritik Terkadang Menyegarkan

Anshar Dwi Wibowo/P-4
28/4/2015 00:00
Kritik Terkadang Menyegarkan
(MI/PANCA SYURKANI)
Auditorium gedung TVRI Jakarta, kemarin, sedikit sesak. Maklum saja, orang nomor satu di negeri ini menjadi salah satu tamu dalam acara Silaturahim dengan Insan Pers. Usut punya usut, ini merupakan acara lanjutan dari perhelatan Hari Pers Nasional di Batam pada Februari lalu.

Pada acara sebelumnya, Presiden Joko Widodo urung hadir. Sebab, berbenturan dengan jadwal kunjungan kenegaraan ke Malaysia, Brunei Darussalam dan Filipina. Jadi, ini seolah menjadi kesempatan kedua bagi presiden untuk menebus kesalahannya.

"Tadi saya sampai di bandara jam 16.30 WIB, masuk ke istana kira-kira jam 17.15 WIB kemudian nerima tamu, mandi, Magrib langsung berangkat. Saya takut ya karena yang di Batam kemarin lolos," ujar Jokowi dengan raut muka kalem.

Jokowi mengaku, sangat sulit untuk mengatur waktu. Padahal, ketika berada di Filipina dia sudah mewanti-wanti untuk bisa hadir dalam peringatan HPN. Tapi, apa mau dikataka, rencana ternyata tinggallah rencana.

"Kita kan berencana ternyata meleset. Tagar dari kangen menjadi kecewa. Bener saya dengar, baru kali ini hari pers nasional tidak dihadiri oleh presiden," katanya yang kemudian disambut riuh tawa para insan pers.

Berangkat dari kejadian tersebut, Jokowi bertekad untuk hadir dalam pertemuan selanjutnya. Bahkan, tanpa malu-malu ia mengaku tidak berani lagi melakukan hal tersebut untuk kali kedua.

Terlepas dari hal tersebut, Jokowi mengaku senang bisa hadir dalam forum silaturahim dengan insan pers. Menurutnya, forum ini penting sebagai sarana bagi pemerintah untuk bisa mendapatkan pandangan dan pemikiran bagi kemajuan negara. Sekaligus ajang mempererat hubungan pemerintah dengan pers.

Bahkan, ia mengaku senang mendapat kritik pedas tentang kebijakan pemerintah dari media massa. "Menurut saya tidak apa banyak kritik, banyak tulisan pedas, buat saya seger seger aja, kadang menyegarkan," ucapnya.

Kritik yang menyegarkan, berupa pikiran bernas, penuh dengan saran konstruktif, solusi, dan menjadi sandaran pengetahuan, edukatif, mendidik, dan mencerahkan bagi masyarakat. Membangkitkan optimisme untuk jadi bangsa besar, dihormati, bermartabat.

Namun, ia berharap publik juga paham, bahwa pemerintah juga memerlukan waktu untuk merancang dan merealisasikan program-program. Tidak bisa, ketika saat ditagih, lalu esoknya harus langsung terealisasi.

Kemerdekaan pers merupakan kondisi yang menguntungkan. Sebab, menumbuhkan perdebatan yang sehat sebagai bagian dari pendewsaan demokrasi. "Tapi kadang-kadang membuat kita capek," selorohnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya