MENGINJAK usianya 63 tahun, 16 April lalu, Komando Pasukan Khusus sudah belajar tersenyum. Ini dimulai di bawah kepemimpinan Mayjen Doni Monardo sejak dilantik sebagai Danjen Kopassus pada Oktober 2014 lalu. Doni mengubah kesan angker Kopassus menjadi lebih humanis dengan mengganti moto usang 'Berani, Benar, Berhasil' menjadi 'Senyum, Salam, Sapa'.
Revolusi wajah Korps Baret Merah itu tidak berhenti pada retorika berbalut moto. Pada syukuran HUT ke-63 yang akan dilangsungkan di Markas Kopassus, Cijantung, Jakarta, Rabu (29/4), pasukan elite TNI-AD ini merangkul sejumlah bekas musuh negara yang pernah saling 'berhadapan' di laga. Seperti, Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Organisasi Papua Merdeka (OPM), hingga Fretilin dari Timor Leste.
Doni menginginkan prajurit Kopassus harus bisa menjalin hubungan baik dengan masyarakat, namun tidak mengurangi kehebatan dan ketangkasannya di medan laga.
Acara bertema Silahturahmi Korps Baret Merah dalam rangka mengoptimalkan nilai-nilai kejuangan ini seakan menjadi ajang untuk mengubah lawan menjadi kawan. Sederet mantan panglima kombatan hadir, seperti bekas Panglima GAM Muzakir Manaf, Irwandi Yusuf. Dari OPM, Boy Eluay anak dari Ketua Dewan Presidium Papua Theys Eluay, kemudian dari Timor Leste Mayjen Lere Anan Timor, Panglima Forza Defeza Timor Leste. Mantan Danjen Kopassus, seperti Prabowo Subianto dan Luhut Binsar Panjaitan juga masuk daftar tamu undangan.
Doni Monardo mengatakan Kopassus tidak memiliki musuh, melainkan negara. Ia mengelak acara itu sebagai ajang rekonsiliasi dengan sejumlah musuh negara. "Ini sebagai ajang introspeksi diri sejauh mana kami menjalankan tugas pokok dan fungsi," ujarnya.
Direktur Program Imparsial Al Araf mengapresiasi langkah Doni yang hendak mengubah wajah Kopassus. "Mengundang sejumlah tokoh penting yang dulu sempat menjadi lawan Kopassus di medan perang lebih efektif. Citra negatif Kopassus masa lalu lebih disebabkan penyalahgunaan kepentingan individu ketimbang kepentingan negara."