PASCAPERHELATAN peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika di Jakarta dan Bandung harus dimanfaatkan untuk menempatkan posisi Indonesia lebih strategis dalam peta politik dan ekonomi global. Indonesia pun dinilai lebih dekat dengan pemerintahan Tiongkok. Presiden Jokowi pun secara tak langsung mengakui kedekatan itu. Menurut Presiden, Indonesia perlu memainkan peran yang lebih strategis dalam percaturan regional. "Kerja sama negara bagus, infrastruktir juga dibangun, pertumbuhan ekonomi pasti bagus," ujarnya sebelum bertolak ke Malaysia dalam rangka menghadiri KTT ke-26 ASEAN, di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, kemarin. Dipandang dari sisi geopolitik dan geoekonomi, sambung Jokowi, Indonesia bisa mengambil peran sentral bersama Tiongkok dan Jepang sebagai pemimpin perekonomian regional.
"Mestinya kita bisa memanfaatkan itu," ujarnya. Dia juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas regional, termasuk hubungan antara Tingkok dan Jepang yang kerap memanas. Jokowi juga menegaskan tidak akan memutus hubungan dengan Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), dan Bank Pembangunan Asia (ADB). Menurut Presiden, hubungan Indonesia dengan ketiga lembaga keuangan tersebut tetap terjaga. "Yang bilang anti siapa? Itu sebuah pandangan bahwa perlu tatanan global yang lebih baik. Negaranegara miskin juga perlu diperhatikan. (Pinjaman) jangan memberatkan," cetusnya. Menurut Direktur Eksekutif Populi Center Nico Harjanto, dampak KAA telah memberikan peluang bagi Indonesia untuk memperbaiki hubungannya dengan negara di Asia dan Afrika. Dampak konkret lainnya, komitmen investasi dari Tiongkok untuk membangun infrastruktur dan memajukan sektor industri di Indonesia. Ia sependapat Indonesia bisa muncul sebagai kekuatan regional, setidaknya kekuatan daya tawar di Asia Tenggara dan bisa menjadi landasan untuk melangkah ke tingkat yang lebih luas lagi, yaitu di Asia. "Ke depan pemerintah harus perbaiki juga hubungan bilateral dengan negara lainnya agar bisa merealisasikan kesepakatan, baik dalam pertemuan KAA dan bilateral."