WAKIL Ketua Umum Partai Golkar versi Munas Jakarta, Yorrys Raweyai(MI/M IRFAN)
WAKIL Ketua Umum Partai Golkar hasil munas Jakarta, Yorrys Raweyai, tidak menepis anggapan bahwa partai beringin identik dengan Soeharto yang merupakan pendiri rezim Orde Baru. Namun, ia menampik Golkar merupakan milik Soeharto beserta keturunannya (Keluarga Cendana)
"Pak Harto ketua dewan pembina dulu (saat Golkar masih menjadi organisasi sosial politik). Namun, setelah era reformasi, Golkar menjadi partai milik publik," kata dia kepada Media Indonesia, kemarin.
Pernyataan tersebut disampaikan Yorrys menanggapi ucapan politikus Golkar Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto bahwa suara-suara di akar rumput sangat menginginkan Keluarga Cendana mengambil alih partai guna menghentikan dualisme kepengurusan.
Berdasarkan wacana yang berkembang, Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto) akan menjadi ketua umum untuk mengakhiri konflik. Yorrys menambahkan keterlibatan keluarga Presiden kedua RI Soeharto tidak akan serta-merta memadamkan konflik.
"Kami sudah memulai islah dengan membuat juru runding, tetapi tidak ada titik temu. Ical (Aburizal Bakrie) ingin lewat proses hukum, maka kami ikuti," imbuhnya.
Saat menanggapi wacana Tommy ingin turun gunung, Yorrys menilai itu merupakan hal wajar. "Beliau berempati karena Keluarga Soeharto memang andil dalam membesarkan nama Golkar," tandas Yorrys. Setop politik trah Juru bicara Poros Muda Partai Golkar Andi Sinulingga mengatakan pendiri Golkar yang juga Presiden kedua RI Soeharto tidak mewariskan partai beringin untuk keluarganya sehingga politik trah sebaiknya tidak dibawa lagi dalam struktural partai.
"Golkar bukanlah warisan Pak Harto (Soeharto) untuk anak dan keluarganya. Poros muda Golkar berpendapat bahwa Golkar bukanlah tempat bersemainya politik trah karena di Golkar semua kader punya peluang dan kesempatan yang sama," kata Sinulingga.
Ia pun menyindir Keluarga Cendana yang pernah meninggalkan Golkar dengan membentuk Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) yang dibesut Tutut Soeharto atau Siti Hardiyanti Rukmana.
"Ketika itu, Golkar ditinggalkan ketika sedang diserang habis-habisan dari segala penjuru," cetusnya.
Tommy bahkan pernah mendirikan Nasional Republik untuk mengikuti Pemilu 2014. Namun, partai itu layu sebelum berkembang.
"Politik trah ialah tradisi kuno yang tidak perlu dipertahankan. Pasca-Orde Baru, Golkar memandang kader berdasarkan potensi, kualitas, dan rekam jejak," tegas Sinulingga.
Ia menambahkan, Partai Golkar tetap terbuka bagi siapa pun yang ingin berbuat baik bagi bangsa dan negara tidak terkecuali Hutomo Mandala Putra.
"Siapa pun boleh memberi sumbangsih di Golkar dengan terus memegang teguh mekanisme organisasi Golkar yang sudah kuat, sangat demokratis, meskipun terus perlu disempurnakan," tutur dia.
Terpisah, Ketua DPP Golkar versi munas Bali Rambe Kamarulzaman menyambut baik jika Keluarga Cendana ikut menyudahi konflik Golkar. "Saya kira yang mau turut serta menyelesaikan konflik akan selalu mendapat apresiasi," pungkas Rambe. (Ant/P-5)