Jalan Kaki yang Penuh Harapan

Donny Andhika
25/4/2015 00:00
Jalan Kaki yang Penuh Harapan
Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana Widodo bersama para kepala negara dari Asia-Afrika berjalan menuju Gedung Merdeka.(MI/ROMMY PUJIANTO)
DENGAN senyum terurai, Presiden Tiongkok Xi Jinping mengayunkan langkahnya dari Hotel Savoy Homann menuju Gedung Merdeka di Jalan Asia Afrika, Bandung bersama Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, dan para kepala negara lain. Tradisi berjalan kaki itu merupakan yang kedua kalinya sejak 1955. Waktu itu hanya diikuti 28 negara.

Rombongan historical walk sampai di Gedung Merdeka, pukul 09.27 WIB, kemarin. Bagi Xi, itu merupakan perjalanan pertama pemimpin asal Tiongkok menyusuri jalan Asia Afrika. Pada KAA pertama, perwakilan Tiongkok saat itu, Perdana Menteri Zhou Enlai, tidak ikut berjalan kaki. Ia terlambat datang ke KAA akibat pesawatnya diledakkan.

Bentuk bangunan yang belum banyak berubah mengingatkan para kepala negara akan semangat para pencetus awal KAA. Semangat, untuk terbebas dari kolonialisasi, dan semangat menciptakan dunia yang adil dan beradab tetap hidup hingga kini. "Dahulu di dalam ruangan ini, hadir para pendahulu kita yang menginspirasi dunia," kata Jokowi dalam pidatonya di Gedung Merdeka.

Jokowi mengingatkan kembali semangat yang digelorakan Presiden pertama RI Soekarno, pemimpin India Jawaharal Nehru, pemimpin Pakistan Mohammad Ali Bogra, pemimpin Sri Lanka Sir John Kotelawala, serta pemimpin revolusioner Myanmar U Nu.

Dari Kota Bandung, lanjut Jokowi, kelima pemimpin besar itu menggelorakan perjuangan kemerdekaan, kesejahteraan, dan keadilan bagi bangsa-bangsa Asia-Afrika.

"Cita-Cita pencetus KAA lebih besar dari zamannya," tambahnya.

Enam puluh tahun lalu, hanya tiga negara Afrika yang menghadiri KAA. Bahkan, Sudan yang belum merdeka tidak memiliki bendera. dan hadir hanya menggunakan kain putih bertuliskan Sudan. Kini peta dunia telah berubah. Pada peringatan KAA kali ini, hadir 91 negara dengan semangat yang sama, tetapi tantangan berbeda.

"Kami masih tertinggal dibanding negara-negara maju di belahan dunia lain. Permasalahan ini juga dihadapi negara-negara sahabat di Asia dan Afrika. Oleh karena itu, mari kita lanjutkan perjuangan para pemimpin kita 60 tahun yang lalu."

Pernyataan Jokowi itu diamini Presiden Myanmar Thein Sein. Dalam pidatonya, Thein mengingatkan seluruh negara Asia dan Afrika untuk tetap bahu-membahu dan menguatkan kerja sama demi terciptanya tatanan dunia yang lebih adil. Begitu pula dengan Presiden Zimbabwe Robert Gabriel Mugabe. Ia berharap negara-negara di bagian selatan bumi memiliki peran lebih besar untuk mencapai keadilan dan kemakmuran. (X-8)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya