Pemerintah Harus Hentikan Pengadaan Alutsista Bekas
Adi/Uta/P-4
19/4/2015 00:00
(ANTARA/Rosa Panggabean)
PEMERINTAH dituntut untuk membeli alutsista baru, bukan barang bekas dari negara lain.
Desakan itu muncul setelah terbakarnya pesawat tempur F-16 di Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, ketika hendak terbang.
Pengamat Militer Al Araf mengatakan pemerintah harus lebih memikirkan untuk membeli alutsista yang baru.
"Alutsista itu sifatnya sangat fundamental bagi sistem pertahanan negara. Dalam hal ini, bisa sangat berbahaya jika kita banyak beli yang bekas, baik itu Sukhoi, tank Leopard maupun F-16," ujar Direktur Program Imparsial tersebut Jakarta, kemarin.
Lebih jauh Al Araf menuturkan lebih berbahaya jika membeli alutsista bekas untuk kebutuhan keamanan udara dan laut karena keduanya sangat berisiko dengan keamanannya.
Pembelian alutsista yang baru, lanjut Al Araf, secara kuantitas tidak akan mendapatkan sebanyak pembelian yang bekas.
"Meskipun beli yang baru akan mendapatkan jumlah terbatas dalam kuantitas, itu bisa menjamin dan menggaransi bahwa itu akan lebih efektif dan efisien."
Guru Besar Universitas Pertahanan Said Salim mengatakan adanya alutsista bekas di Indonesia dinilai kurang bisa menjamin keamanan.
Teknologi alutsista bekas yang cenderung sudah berumur dinilai kurang sesuai dengan kondisi sekarang ini.
"Membeli alutsista bekas kurang menjamin, lebih baik beli yang baru," paparnya.
Menurutnya, uang yang dikeluarkan untuk meremajakan alutsista agar bisa digunakan tidak jauh berbeda ketika negara membeli yang baru.
Hal itu dinilai tidak efektif olehnya.
"Jadi daripada beli barang bekas yang kita juga keluar uang, lebih baik beli barang baru. Itu lebih terjamin daripada barang bekas," jelasnya.
Sampai saat ini, Indonesia masih mempunyai perjanjian kontrak dengan Amerika mengenai hibah alutsista berupa pesawat F-16.
Dalam kontrak tersebut, Indonesia berhak mendapatkan hibah sebanyak 24 pesawat.