PEMERINTAH diminta tidak lagi mengham burkan anggaran untuk pengadaan alat utama sistem persenjataan bekas. Alutsista baru dinilai lebih efisien ketimbang pengadaan barang bekas.
Desakan itu disampaikan Wakil Ketua DPR Fadli Zon setelah kejadian gagal terbang pesawat tempur F-16, hibah dari Amerika Serikat. Menurut Fadli, kejadian terbakarnya pesawat F-16 menjadi momen tepat untuk evaluasi alutsista.
"Kita ingin alutsista udara betul-betul terbaik dengan teknologi mutakhir. Apakah efektif, semoga tak terulang lagi. Ini momentum untuk evaluasi," ujarnya saat menerima Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna di Jakarta, kemarin.
Ia pun menambahkan, menyangkut kemampuan anggaran untuk memodernisasi alutsista tidak menjadi masalah. "Anggaran ada lah. Presiden menjanjikan untuk menaikkan alutsista. Sejalan dengan program pemerintah," tandasnya.
Desakan juga disampaikan anggota Komisi I DPR TB Hasanuddin. Ia menyampaikan pengadaan alusista bekas lebih merugikan jika dibandingkan dengan membeli yang baru.
"Alutsista bekas itu sulit dalam hal pemeliharaannya sehingga biaya pemeliharaan tahunannya jauh lebih besar ketimbang baru," jelasnya.
Kedua, lanjut dia, walaupun dari segi harganya lebih murah, dari segi usia pakainya lebih rendah. "Kalau bekas tahan 10 tahun, kalau baru tahan 30 tahun," terangnya.
Ketiga, sambungnya, dari segi efek daya tangkalnya terhadap ancaman. "Kalau bekas, kurang memiliki daya tangkal, tapi yang baru punya daya tangkal meskipun sedikit lebih tinggi," katanya. Karena itu, menyangkut pengadaan alutsista baru sudah menjadi komitmen awal Komisi I DPR.
Ia pun mencontohkan akan lebih baik pemerintah membeli 6 pesawat tempur F-16 yang andal dan mutakhir dengan senjata lengkap daripada membeli 24 pesawat tua tanpa senjata dengan anggaran sama.
Evaluasi Wakil Ketua Komisi I DPR Hanafi Rais meminta pemerintah mengevaluasi hibah pesawat jet tempur F-16 yang masih tersisa 19 unit. "Kita sebaiknya evaluasi dulu apa yang salah dengan proses hibah pesawat dan berakibat jatuhnya pesawat tersebut," kata politikus PAN itu.
Dia mengatakan insiden pesawat F-16 itu menjadi pelajaran bila menerima barang hibah harus selektif.
KSAU Agus Supriatna mengatakan pihaknya akan mengevaluasi sisa pesawat F-16 lainnya. "Untuk sementara yang ada di sini akan kita evaluasi," katanya.
Pada kesempatan tersebut, ia pun mengakui bahwa pesawat F-16 memang mengalami masalah. "Memang ada retak, tapi itu di bagian kanopi, bukan di mesin," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Jundan Eko Bintoro menegaskan Kemenhan akan memprioritaskan pembelian alutsista baru. "Ada komitmen.Kalau bisa beli baru, lebih baik baru," ujarnya.
Dalam menanggapi alutsista hibah, katanya, saat itu dianggap merupakan keputusan yang terbaik dengan melalui beberapa kajian. "Itu sudah melalui beberapa tahapan bahwa itu masih layak," ujarnya. (Ant/P-4)