PRESIDEN Joko Widodo akan menggelorakan pesan tatanan baru, yaitu keadilan dan keseimbangan global, kepada dunia dalam pidato peringatan ke-60 Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 19-24 April. Tatanan baru itu bertujuan menjawab situasi dunia yang timpang karena ketiadaan keadilan.
Indonesia, kata Presiden, akan mengambil peran mewujudkan keadilan dan keseimbangan global itu. "Pidato nanti bukan normatif, melainkan ada pesan kuat. Pesan mengenai tatanan baru, yaitu keadilan dan keseimbangan global," tegas Jokowi saat membuka rapat terbatas KAA di Kantor Presiden, Jakarta, kemarin.
Presiden menilai Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diharapkan mampu membuat keadilan dan keseimbangan global malah tidak memerankan hal itu. Kepala Negara lantas memberikan contoh Irak. "Siapa yang memberi mandat dulu, ada yang ke sana," kata Jokowi setengah bertanya.
Deputi II Bidang Pengelolaan dan Kajian Program Prioritas Kantor Staf Presiden Yanuar Nugroho menjelaskan kesimbangan global itu mencakup solidaritas ekonomi, politik, dan budaya.
Dalam kesempatan terpisah, Wakil Presiden Jusuf Kalla pun menegaskan tatanan baru karena dunia belum adil, secara ekonomi dan politik. "Penguasaan ekonomi belum rata. Solidaritas antarnegara Asia-Afrika pun harus diperbaiki," ujarnya di kantornya.
Tekad untuk mengubah tatanan dunia juga disampaikan dua negara raksasa Asia peserta KAA, yakni Tiongkok dan India. Dubes Tiongkok Xie Feng menyatakan semangat kebersamaan yang telah dibangun sejak 1955 harus diperkuat. "Semangat Bandung dapat membawa babak baru di Asia dan hubungan dengan Afrika," katanya.
Xie menegaskan, dengan menghadiri peringatan KAA, Tiongkok bermaksud berkontribusi langsung dalam menjaga semangat Dasasila Bandung. 31 kepala negara Sependapat dengan Xie, Duta Besar India untuk Indonesia Gurjit Singh menegaskan peringatan KAA kali ini akan menjadi momentum untuk meningkatkan hubungan antarnegara di kedua benua.
Melalui perjanjian kerja sama bilateral dan multilateral, tegasnya, India akan berusaha untuk mengurangi tingkat kemiskinan, baik di dalam negeri maupun di kawasan. "Saat ini, kami masih menghadapi masalah kemiskinan dan persamaan hak," ujarnya.
Penanggung jawab KAA Luhut Binsar Panjaitan menyatakan persiapan untuk perlehatan KAA, baik di Jakarta maupun Bandung, sudah final. Berdasarkan data terakhir, ada 79 negara dengan 31 di antaranya kepala negara atau kepala pemerintahan sudah menyampaikan konfirmasi kehadiran mereka.
Peringatan ke-60 KAA itu akan digelar di Jakarta dan Bandung. Segmen pertama, 19-23 April, berlangsung di Jakarta dengan agenda pertemuan pejabat tinggi, tingkat menteri, hingga kepala pemerintahan. Segmen kedua, pada 24 April, seluruh perwakilan negara bertolak ke Bandung untuk menapak tilas KAA. (Wib/Hym/X-5)