TNI-AU Kapok Beli Pesawat Bekas

Erandhi Hutomo Saputra
17/4/2015 00:00
TNI-AU Kapok Beli Pesawat Bekas
()
PAGI itu, Letnan Kolonel Penerbang Firman Dwi Cahyono bersiap menerbangkan F-16 Fighting Falcon Block 521D nomor registrasi TT-1643 untuk latihan pengamanan Konferensi Asia Afrika, 19-24 April, dan pembaretan Presiden Joko Widodo di Mabes TNI Cilangkap.

Gemuruh pesawat tempur buatan Amerika Serikat itu pun memecah pagi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Namun, saat akan tinggal landas (take-off), dari ruang kemudi (kokpit), Firman melihat lampu peringatan (warning light) menyala memberikan sinyal tidak berfungsinya sistem hidraulik. Selain itu, kepulan asap terlihat dari mesin.

Penerbang terbaik kedua TNI-AU itu secepatnya mengerem secara maksimal agar pesawat segera berhenti, tapi pesawat terus melaju hingga ujung landasan. Saat melihat hal itu, sang pilot memutar balik pesawat ke arah semula guna menghindari tabrakan dengan perumahan penduduk. Akibat manuver itu, muncul percikan hingga pesawat yang penuh bahan bakar itu terbakar pukul 08.10 WIB. Belum sempat api membesar, Firman keluar dari pesawat. "Saya menghargai pilot dengan action-nya tidak mengakibatkan korban lain," kata Kepala Staf TNI-AU Marsekal Agus Supriatna di Mabes TNI-AU, Cilangkap, Jakarta Timur, kemarin.

Komandan Skadron 16 yang mengalami luka bakar di bagian tangan dan pundaknya itu langsung dilarikan ke Rumah Sakit AU Esnawan Antariksa Halim Perdanakusuma. "Alhamdullilah, penerbang sehat," tutur Agus.

Dengan kejadian itu, Agus berpikir kembali untuk membeli pesawat bekas. "Insya Allah tidak membeli yang bekas lagi. Ini jelas suatu pengalaman," ujarnya.

Menurut dia, pihaknya berencana mengganti pesawat F5 Tiger dengan pesawat Shukoi-35 atau F-16 Piton tipe 70. "Mudah-mudahan kita bisa membeli yang baru," jelas Agus.

Tidak dibatalkan
Pesawat nahas itu merupakan bagian dari pesawat F-16 hibah dari 'Negeri Paman Sam'. Masih ada 19 pesawat F-16 lagi yang belum tiba di Indonesia. "Ini program penambahan 24 pesawat F-16 beberapa tahun lalu. Dari 24 pesawat, baru 5 yang datang," papar Agus.

Dia mengaku tidak akan membatalkan sisa pesawat yang belum datang, karena kontraknya sudah diteken. Pesawat bekas ini sudah dimutakhirkan agar layak terbang dengan biaya US$400 juta atau sekitar Rp5,13 triliun (Rp12.840/US$1).

Meski dianggap laik terbang, semua pesawat F-16 yang berusia 35 tahun dari Skadron Pekanbaru itu akan dikandangkan untuk bahan penyelidikan.

Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengaku sudah melaporkan hal itu ke Presiden Jokowi. "Kata Presiden, sebaiknya enggak ada lagi hibah. Kita harus beli baru," ungkapnya di Bandung, Jawa Barat, kemarin.

Secara terpisah, pengamat pertahanan Al Araf menyatakan pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista), seperti pesawat F-16 rekondisi, bukanlah suatu langkah tepat. "Selain menimbulkan kecurigaan atas permainan anggaran, pembelian pesawat bekas juga sangat negatif dampaknya," ucapnya. (Ric/X-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya