Saksi Sebut Kasus BMG Buat Praktisi Migas Dilematis

Mediaindonesia.com
10/5/2019 21:00
Saksi Sebut Kasus BMG Buat Praktisi Migas Dilematis
Saksi Hadi Ismoyo dalam persidangan kasus Karen Agustiawan(Istimewa)

WAKIL Ketua Umum (Ketum) Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Hadi Ismoyo‎ mengatakan ditariknya perkara akuisisi participating interest (PI) 10% Blok Basker, Manta, Gummy (BMG) Australia ke ranah tindak pidana korupsi menimbulkan keresahan bagi praktisi migas.

"‎Kasus yang terjadi saat ini karena persoalan-persoalan teknis yang terjadi, discovered atau dry hole atau suspend dan sebagainya itu adalah proses binsis," kata Hadi saat memberikan keterangan sebagai ahli akuisisi dan marger serta ahli reserfoir migas dalam sidang perkara Karen Agustiawan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Jumat (10/5).

Menurut Hadi, karena itu merupakan kegiatan bisnis yang dilakukan hari demi hari ditarik ke ranah pidana, khususnya korupsi maka membuat ‎para engineer akan menjadi takut untuk melakukan eksplorasi.

"‎Kalau ini dimasukkan ke ranah hukum akan menjadikan kami semakin takut untuk melakukan kegiatan-kegiatan eksplorasi ke depan," ungkapnya.

Kasus BMG, kanjut Hadise bak buah simalakama karena jika tidak melakukan apa-apa, produksi minyak nasional terus menurun dan menuntut ditemukan cadangan-cadangan baru untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang terus meningkat.

‎"Kita membutuhkan rekan-rekan engineer petrolum di lapangan untuk lebih aktif, inovatif, untuk mencari minyak," katanya.

Jika tidak ada lagi eksplorasi atau upaya-upaya lain untuk mendapatkan minyak, maka impor merupakan jalan terakhir yang mengakibatkan berbagai dampak negatif.

Baca juga : Hakim Tolak Keberatan Karen Agustiawan

"Kalau harus impor, luar biasa demage-nya bagi Indonesia. Kita juga tidak bisa memperkerjakan kawan-kawan kita, luar biasa tenaga kerja di migas ini. Kalau ini terancam dan mereka takut lakukan sesuatu, industri migas Indonesia akan stagnan," katanya.

Hadi menjelaskan, untuk mendapatkan minyak bisa melalui ekspansi yakni eksplorasi dan akuisisi. Eksplorasi atau pengeboran untuk mendapatkan minyak membutuhkan biaya dan risiko yang tinggi.

Tingkat keberhasilannya pun sangat rendah yakni 10:1. Artinya, jika 10 kali ngebor, hanya satu kali yang berhasil atau bahkan di atas itu.

Soal angka keberhasilan itu berlaku di perusahaan migas swasta maupun negara. Hadi menceritakan ketika perusahaan Migas tempatnya bekerja mengakuisisi Blok Cepu, yang akhirnya produksi minyaknya menurun.

"Tidak (dipidanakan) Yang Mulia, manajer-manajer yang di sana, orang-orang sampai sekarang tetap bekerja di sana, tidak ada masalah karena itu bagian dari risiko bisnis," ujarnya.

‎Hadi menjelaskan bagaimana perusahaan tersebut memutuskan mengakuisisi Blok Cepu. Menurutnya, jangan menilai akuisisi rugi karena hanya melihat sumur proved kemudian tidak propduksi.

Namun harus juga membaca cadangan yang belum ditemukan atau probable dan possible. Begitupun untuk BMG.

"Kami lakukan 2009 akuisisi di Blok Cepu, yang produksi hanya Banyu Urip, tapi kita tetap akuisis karena melihat ada lapangan-lapangan lain, meskipun hanya 1 sumur," katanya.

Dalam satu wilayah kerja atau kordinat Migas, lanjut Hadi, terdapat banyak blok, sehingga jika sumur di satu blok tidak bagus, maka bisa mencari lagi di blok atau lapangan lain, termasuk mencari energi lain, yakni gas.

Menurutnya, kerugian di satu blok atau satu sumur, bisa tergantikan dari blok lain, meskipun jika melakukan eksplorasi hanya 10:1. Namun yang satu itu bisa menutup dan memberikan keuntungan bagi perusahaan.

Dalam akusisi, Hadi juga menyampaikan, bahwa engineer sangat percaya pada data room yang diberikan pihak yang menawarkan PI atau akusisi, karena di dunia migas itu ada resfect dan dignity karena mereka profesional.

"‎Mereka semua adalah profesional di bidang migas dan kita respek dan trust. Resfect dan trust itu yang meyakinkan saya apa yang dilaukan dan diberikan data-data otentik di lapangan tersebut," katanya.

Hadi juga menyampaikan akuisisi IP 10% Blok BMG oleh Pertamina dari ROC ‎secara teknis sudah benar.

"Secara teknis namanya akuisisi ya seperti itu. Nanti akhirnya keluar minyak atau enggak, kita tidak bisa jamin. Tapi itulah bagian risiko dari bisnis. Kenapa kita dapat minyak, kita terus melakukan eksplorasi. Ada yang berhasil dan gagal, 10:1. Satu ini bisa biayai yang 10," katanya. (RO/OL-8)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ghani Nurcahyadi
Berita Lainnya