KEPALA Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Agus Supriatna mengatakan penggunaan instrumen militer merupakan poin penting yang dapat digunakan sebagai alat politik diplomasi. Kekuatan militer dianggap mampu meningkatkan posisi tawar dalam penyelesaian persoalan bilateral maupun internasional.
"Secara nasional, power politic masih menjadi isu yang menonjol dalam perkembangan global, khususnya penggunaan instrumen militer," kata Agus dalam amanatnya dalam HUT Ke-69 TNI-AU di Lanud Halim Perdanakusuma, kemarin.
Menurut dia, ada beberapa permasalahan lintas negara yang harus diperhatikan TNI-AU, semisal masalah terorisme serta perkembangan gerakan Islamic State (IS), karena telah meresahkan umat beragama di Indonesia. Oleh karena itu, perlu adanya rumusan untuk pencegahan baik dari dalam maupun luar negeri.
Selain itu, TNI-AU juga dituntut untuk mengatasi persoalan penangkapan ikan liar, penebangan liar, perbudakan manusia, serta peredaran kejahatan narkoba.
Dalam kesempatan itu, Agus menegaskan bahwa TNI-AU siap mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia sembari menjaga kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pada acara itu, para prajurit TNI-AU melakukan demo udara berupa penerjunan prajurit Korpaskhas.
Lalu atraksi terbang bebas enam pesawat CN-295 dari Skuadron 2, delapan pesawat Hercules C-130 dari Skuadron 31. Selain itu, enam pesawat F-16 Fighting Falcon dari Skuadron 3, dan delapan pesawat T-50i Golden Eagle juga melakukan atraksi yang menegangkan.
Sementara itu, Jupiter Aerobatic Team (JAT) yang beberapa waktu lalu mengalami kecelakaan di Malaysia, juga turut serta dalam atraksi udara dengan enam pesawat andalannya, KT-Wong Be. (Ant/pol/P-4)