PDIP Lahirkan Budaya Politik Baru

MI/NUR AVIANNI
10/4/2015 00:00
PDIP Lahirkan Budaya Politik Baru
Wisatawan ikut mngepalkan tangan di depan simpatisan PDIP saat berlangsungnya pembukaan Kongres IV PDIP di Sanur, Bali, kemarin.(ANTARA/NYOMAN BUDHIANA)
KETUA Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri menyambut baik konsolidasi di partai berlambang kepala banteng itu yang lebih mengedepankan musyawarah.

"Keseluruhan proses konsolidasi penuh dengan tradisi musyawarah, tanpa voting sama sekali. Inilah kematangan demokrasi yang membumikan Pancasila," tutur Megawati saat pidato pembukaan Kongres IV PDIP di Bali, kemarin.

Pada dasarnya, tambah Megawati, kongres merupakan peristiwa politik bagi tumbuh kembangnya peradaban politik yang luhur, dan menjadi persemaian bagi Indonesia yang adil dan makmur.

"Kongres partai merupakan peristiwa dan ajang ideologis, bukan peristiwa saat pragmatisme dan transaksional berkembang subur. Kita harus melawan berbagai tindakan transaksional tersebut," tutur Megawati.

Dengan proses konsolidasi yang telah berjalan, menurut Megawati, PDIP telah melahirkan budaya politik baru, sebab untuk pertama kalinya, seluruh proses konsolidasi dimulai dari bawah bergerak ke atas secara musyawarah.

Megawati juga menyoroti gerakan politisi oportunis yang tidak bekerja untuk partai dan hanya menyalip di tikungan.

"Ada simbiosis kekuatan antipartai dan modal, berhadapan dengan gerakan berdikari. Mereka ialah kaum oportunis. Mereka tidak mau bekerja keras membangun partai."

Megawati menjelaskan para penumpang gelap itu tidak mau mengorganisasi rakyat dan hanya menunggu. "Selanjutnya menyalip di tikungan," kata Megawati.

Megawati dilantik kembali menjadi Ketua Umum DPP PDIP periode 2015-2020, kemarin. Penetapan dan pelantikan tersebut dilakukan pada rapat paripurna sesi pertama yang dipimpin Ketua DPD PDIP Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Frans Lebu Raya.

Jadwalnya, rapat itu membahas laporan pertanggungjawaban DPP PDIP periode 2010-2015.

Namun, peserta kongres secara serentak menyatakan tidak perlu pembacaan laporan pertanggungjawaban hasil kerja DPP PDIP. Pimpinan sidang menyatakan menerima laporan pertanggungjawaban setelah sekali lagi meminta persetujuan peserta kongres. Setelah itu, DPP PDIP periode 2010-2015 dinyatakan demisioner dan mengukuhkan Megawati untuk memimpin PDIP periode 2015-2020.

"Karena sudah diputuskan oleh rakernas dan diputuskan pada musyawarah di semua tingkatan, saya menerima amanah ini," kata Megawati yang ditimpali tepuk tangan dan teriakan 'Hidup Megawati' oleh peserta kongres.

Setelah itu, dilakukan pelantikan dengan pengucapan sumpah dan janji yang dipimpin oleh Frans Lebu Raya. Frans menambahkan Megawati juga menjadi formatur tunggal menyusun kepengurusan PDIP.

Prerogatif Megawati
Plt Sekjen DPP PDIP yang juga sekretaris jenderal demisioner DPP PDIP Hasto Kristiyanto menegaskan menyerahkan mengenai jabatan wakil ketua umum (waketum) pada kepengurusan DPP PDIP periode 2015-2020.

Hasto mengatakan hal itu seputar wacana pemberian jabatan waketum untuk Puan Maharani.

"Ada tidaknya jabatan wakil ketua umum merupakan hak prerogatif ketua umum," kata Hasto. (Ant/T-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya