Kembalikan Filsafat ke Jalur yang Benar

Golda Eksa
14/2/2019 06:45
Kembalikan Filsafat ke Jalur yang Benar
(ANTARA FOTO/Dodo Karundeng)

PEGIAT filsafat di Indonesia mengecam adanya praktik pembusukan filsafat dan bertekad meluruskan kembali fungsi filsafat ke jalur yang sebenarnya.

Dalam diskusi Menolak Pemiskinan dan Pembusukan Filsafat di Ruang Publik yang digelar di Jakarta, kemarin, sejumlah pihak menyampaikan keprihatinan atas eksistensi filsafat saat ini. Acara itu dihadiri ratusan pegiat filsafat serta sejumlah narasumber seperti budayawan Goenawan Mohamad, dosen filsafat UI Donny Gahral Adian, eks peneliti LIPI Mochtar Pabottingi, dan alumnus STF Driyarkara Jakarta Edisius Riyadi Terre.

Edisius mengemukakan pembusukan filsafat muncul dalam dua bentuk. Pertama, filsafat digunakan untuk menjustifikasi kepentingan politik tertentu tanpa konfrontasi apakah hal itu menyumbang pada telos (tujuan) setiap kebijakan yang berkedamaian dan berkeadilan.

"Kedua, filsafat dilacurkan sebagai alat untuk tujuan subsistens semata dan bukan lagi sebagai art of thinking, sebagaimana menjadi praktik para filsuf Yunani kuno," kata Edisius.

Menurut Mochtar, praktik serupa juga membahana lewat publikasi media massa dan percakapan di medsos. Alih-alih mendorong diskursus publik berdasarkan hikmat kebijaksanaan, sebagian pihak justru membajak ruang publik demi menegaskan demarkasi kawan dan lawan.

Pada kesempatan itu, para pegiat filsafat menyuarakan enam pernyataan sikap terkait kondisi yang belakangan terjadi. Mereka, misalnya, menolak praktik sofisme atau permainan tipu daya dengan kelihaian silat lidah dan permainan kata untuk mengecoh lawan bicara, semisal mengajukan dalil-dalil seolah argumentasi padahal sejatinya bukan.

Pegiat filsafat juga menolak kesesatan berpikir dengan mengabaikan kaidah-kaidah berlogika dan penyebarluasannya sekadar demi pembenaran dan kepentingan diri sendiri. Mereka pun mendorong praktik berpikir logis sekaligus kritis demi menghindari ke-sesatan berpikir.

Diskusi tersebut dimaksudkan untuk membawa kembali filsafat ke jalur yang benar, bukan untuk membungkam Rocky Gerung. Rocky, eks do-sen filsafat UI yang kini menjadi pengamat politik, kerap mengeluarkan pernyataan kontroversial seperti kitab suci adalah fiksi. (Gol/X-8)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya