Kiai Ma'ruf Dinilai Tepat Dampingi Jokowi

Micom
13/2/2019 18:40
Kiai Ma'ruf Dinilai Tepat Dampingi Jokowi
(Ist)

CALON Wakil Presiden nomor urut 01 KH Ma'ruf Amin ialah figur besar. Dia bukan sosok sembarangan di dunia politik. Beragam prestasi  ternyata telah ditorehkannya sejak muda.Masyarakat lebih mengenal lelaki yang kerap disapa Abah Kiai Ma'ruf sebagai ulama besar.

Pasalnya, pria kelahiran Tangerang 11 Maret 1943 itu menjabat Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama periode 2015-2020. Dan pada rentang waktu yang sama, dia juga menjabat Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2015-2020.

Beragam prestasi sebenarnya sudah terlihat dari figur Ma'ruf muda.

"Abah Kiai Ma'ruf ini figur yang luar biasa. Rendah hati dan ramah. Panutan bagi banyak orang. Beliau juga sangat amanah. Wajar bila tanggung jawab besar sudah diembannya sejak masih muda," ungkap Ketua Dewan Pembina Master C19 Portal KMA, Ahmad Syauqi, dalam keterangannya, Rabu (13/2).

Fakta mencatat Ma'ruf Amin terpilih sebagai anggota termuda DPRD DKI Jakarta dari hasil Pemilihan Umum 1971 melalui Partai Nahdlatul Ulama (PNU). Pada saat itu, usianya masih 28 tahun sehingga menjadi anggota termuda.

Menariknya, dia memimpin persidangan perdana DPRD DKI mendampingi anggota tertua, Sjamsidae Murdono dari Partai Golkar. Sejak dilantik 14 Oktober 1971, Kiai Ma'ruf sudah diingatkan banyak hal.

Intinya, kepentingan umum harus diutamakan di atas keperluan lainnya. Apalagi, posisinya wakil dari seluruh rakyat DKI Jakarta. Hal ini juga yang ditekankan oleh Gubernur Ali Sadikin yang melantiknya, mewakili Menteri Dalam Negeri, kala itu.
"Komitmen besar selalu dikedepankan Abah Kiai Ma'ruf. Kebijakan-kebijakan yang ditawarkan selalu prorakyat.

Mengakomodir kepentingan masyarakat luas. Tidak memandang latar belakang tertentu saja. Semua untuk kemaslahatan bersama. Dan, masyarakat selalu menerimanya dengan terbuka," jelas Gus Oqi, sapaan akrab dari Ahmad Syauqi, yang juga putra Kiai Ma'ruf Amin.

Keberpihakan kepada rakyat mengantarkannya kembali menjadi anggota DPRD DKI Jakarta pada Pemilu 1977 melalui Partai Persatuan Pembangunan yang menjadi kendaraan politiknya.

Waktu itu, PPP menjadi fusi dari partai-partai Islam. Bersama PPP, Abah Kyai Ma'ruf pun duduk sebagai pimpinan Komisi A yang membidangi urusan pemerintahan.

"Wawasannya di dunia politik sangat bagus. Berkolaborasi dengan eksekutif DKI Jakarta waktu itu, ada banyak kemajuan yang dibuat.

Dengan posisinya sebagai cawapres 01 untuk Pilpres 2019, kami tentu gembira. Sebab, dengan program yang ditawarkan akan membuat Indonesia semakin maju lagi," tegas Gus Oqi.

Langkah besar lalu diambil Abah Kiai Ma'ruf, apalagi setelah NU kembali menjadi organisasi keagamaan. Ma'ruf Amin kembali melanjutkan kiprahnya bersama NU dengan menggerakkan forum diskusi keagamaan (bahtsul masail).

Dalam perkembangannya, bahtsul masail menjadi fondasi intelektualitas NU. Aktivitas ini mengukuhkannya sebagai ulama yang disegani. Sosoknya sebagai kiai ternyata tidak kalah dengan pamornya sebagai politikus.

"Kami berharap besar kepada Abah Kiai Ma'ruf ini sebagai cawapres 01. Kami sangat percaya, beliau ini tetap amanah dan khidmah sehingga Indonesia semakin sejahtera.

Dengan kapabilitasnya, akan ada banyak perubahan positif bagi Indonesia untuk 5 tahun ke depan,” jelas Gus Oqi. Kolaborasinya bersama Capres Joko Widodo pun menjadi formulasi terbaik.

Contoh harapan cerah ini bisa dilihat dari konsep ekonomi yang akan digulirkannya. Abah Kyai Ma’ruf ini tetap konsisten dengan teori Arus Baru Ekonomi Indonesia. Konsep ini memiliki napas ekonomi berkeadilan.

"Paslon 01 Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin ini merupakan paket terbaik. Sinergi ideal bagi kemajuan negeri ini. Kapabilitas Pak Joko Widodo dalam membangun Indonesia di periode pertama sangat luar biasa. Untuk itu, sudah seharusnya kepemimpinan Presiden Joko Widodo dilanjutkan," kata Gus Oqi lagi. (RO/OL-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya