Strategi Propaganda Rusia untuk Cuci Otak

(Gol/Ant/P-1)
10/2/2019 07:00
Strategi Propaganda Rusia untuk Cuci Otak
(MI/ADAM DWI)

GURU Besar FISIP UI Arbi Sanit meyakini propaganda ala Rusia ialah upaya mencuci otak. Arbi menjelaskan dalam konteks Indonesia kekinian--propaganda ala Rusia bertujuan mencuci otak masyarakat kelas bawah.

“Intinya apa? Cuci otak. Otak rak-yat, pemilih dicuci. Nah, caranya ada dua. Pertama, ulang terus. Kedua, berikan substansi yang baru di luar pengetahuan masyarakat. Saya kira ini yang sedang berlangsung untuk mengisi waktu kampanye,” ujar Arbi dalam diskusi bertajuk Propaganda Rusia, Ancaman bagi Demokrasi Kita.

Arbi mengkritik kebijakan KPU yang dinilai terlalu lama dalam memberikan masa kampanye bagi calon anggota legislatif dan pasangan calon presiden. Masa kampanye yang terlalu lama dimanfaatkan para pe-serta pemilu untuk melancarkan propaganda-propaganda.

Lantas, siapakah yang memainkan propaganda? Menurut Arbi, semua peserta pemilu, baik di pemilihan legislatif maupun eksekutif. Di pilpres, Arbi menilai kubu pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Kiai Ma’ruf Amin dan kubu pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sama-sama menggunakan propaganda untuk meraih kemenangan.

‘‘Soal pengulangan-pengulangan (informasi), kan, dua-duanya sama, apa saja diputar kembali. Tapi soal isi berbeda. Nomor pertama apa yang dikerjakan selama ini, disampaikan. Yang nomor dua, apa yang dipikirkan dan dipersepsikannya atau apa yang dimaknainya itu yang disampaikan.’’

Direktur Lembaga Pemilih Indo-nesia (LPI) Boni Hargens mengingatkan bahaya dari penggunaan teknik propaganda Rusia dalam kampanye Pemilu 2019. Boni mengungkapkan teknik yang kemudian dikenal dengan istilah firehouse of falsehood (FOF) ini digunakan Rusia saat mencaplok Krimea dan serangan Georgia.

“Cirinya dengan menyebarkan kebohongan secara masif. Lalu belakangan, diterapkan dalam dunia politik kepemiluan di sejumlah negara. Di Indonesia, dimulai dari Pilkada Jakarta yang sejak itu mulai digunakan,” ujar Boni.

Menurut Boni, pendekatan FOF ini merupakan ancaman dalam demokrasi politik. Bahaya tersebut tergambar lewat suburnya penyebaran informasi hoaks dan berkembangnya isu politik identitas. (Gol/Ant/P-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya