Redam Politik Identitas Selama Tahun Politik

Rahmatul Fajri
24/1/2019 17:33
Redam Politik Identitas Selama Tahun Politik
(MI/Susanto )

STAF Pengajar Ilmu Politik Fisipol Universitas Kristen Indonesia (UKI) Osbin Samosir mengatakan dalam tahun politik, beragam cara ditempuh masing-masing kandidat agar dapat meningkatkan eksistensi di kancah perpolitikan.

Namun, ketika cara tersebut dibarengi dengan penggunaan isu identitas, maka, kata Osbin, menjadi hal yang mengkhawatirkan dan menjadi masalah, karena mengutamakan identitas ketimbang kapasitas.

Menurut Osbin, penggunaan politik identitas dalam politik praktis berarti menjadi cara lain ketika tidak mendapatkan pengakuan dalam perpolitikan.

"Isu identitas adalah upaya sekelompok orang untuk menonjolkan primordialisme identitasnya, karena merasa diri tidak mendapatkan pengakuan, sehingga merasa perlu identitasnya mendapat legitimasi," kata Osbin ketika menghadiri refleksi awal tahun Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) di Grha Oikumene PGI, Jakarta Pusat, Kamis (24/1).

Meski demikian, dalam perjalanan Pemilu, penggunaan isu identitas seperti berbalut agama, kata Osbin, justru tidak memperlihatkan kondisi yang mengkhawatirkan. Pasalnya, dalam pandangannya, ia menilai partai berideologis agama cenderung ditinggalkan pemilihnya.

"Dari segi Pemilu tidak mengkhawatirkan, malah partai ideologis agama seperti PKS dan PBB cenderung ditinggalkan pemilihnya," kata Osbin.

Dalam catatannya, ia melihat pada Pemilu 2004 PKS tidak terlalu diperhitungkan. Namun, Pemilu 2009, mampu melejit di peta persaingan parpol.

"Pada 2009 tetap di angka 7 persen. Kemudian jatuh di kisaran 6 persen pada Pemilu 2014," kata Osbin.

Lebih lanjut, Osbin mengatakan hal yang serupa juga terjadi pada partai berideologi Kristen. Ia mengatakan kiprah partai dengan dinamika ke-Kristenan muncul pada Pemilu 2004. Ketika itu Partai Damai Sejahtera meraup suara 2,14 perse dengan mendudukkan 13 kursi di DPR.

"Partai Kristiani hanya mencapai puncak pada Pemilu 2004. Tapi, setelah itu redup," kata Osbin.

Melihat catatan tersebut, ia menilai masa depan demokrasi dan pluralisme di Indonesia menjadi semakin baik, karena politik berlatar belakang identitas mengalami goncangan dari tahun ke tahun.

"Partai nasionalis silih berganti menjadi pemenang Pemilu, dan itu sangat menonjol," kata Osbin. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya