Ormas Berperan Jaga Moderasi Beragama

Syarief Oebaidillah
24/1/2019 16:23
Ormas Berperan Jaga Moderasi Beragama
(MI/Usman Iskandar)

DALAM kurun waktu empat tahun terakhi ini , kekerasan di Indonesia dinilai sangat menurun. Kendati kasus intoleransi masih ada namun skalanya sangat kecil, tidak seperti 10 tahun lalu. Capaian tersebut tidak lepas dari peran ormas ormas Islam yang telah berhasil menjaga moderasi beragama.

"Kita beruntung Indonesia ini memiliki Islamic legacy yang menjaga agar tercapai moderasi itu. Kita harus berterima kasih pada ormas-ormas yang menjaga moderasi Islam," kata cendekiawan muslim Azyumardi Azra saat mengutarakan pandangannya pada talk show "Tantangan dan Masa Depan Moderasi Beragama Dalam Peta Geo Sosial Politik di Rakernas Kemenag, Jakarta, Kamis (24/1).

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menyatakan bangsa Indonesia juga harus bersyukur sebagai negara terbesar penduduk muslim di dunia. Atau the largest moeslem country, “Indonesia sangat beruntung karena salah satu dari sedikit negara dengan masyarakat muslimnya begitu besar dan paling aman," ujar Azyumardi.

Bahkan, kata dia, hal itu tidak hanya harus disyukuri umat muslim juga umat agama lainnya. Sehingga kehidupan sosial dapat berjalan dengan tenang. "Indonesia bak gambaran surga. Rasa syukur ini harus kita jaga dengan cara menjaga Indonesia. Salah satunya dengan menjaga moderasi beragama," cetusnya.

Pembicara lainnya, Inayah Wahid yang mengangkat "Isu moderasi beragama perspektif generasi milenial". Inayah sendiri enggan menyebut dirinya generasi milenial. Dia lebih suka menyebutnya sebagai generasi kiwari. Kiwari berasal dari bahasa Sunda.

"Saya menyebut bukan generasi milennial namun generasi kiwari atau generasi saat ini," ujar Inayah. Putri Abdurrahman Wahid alias Gus Dur ini menilai, generasi kiwari cenderung tidak setia terhadap tokoh agama.

Mereka hanya mementingkan tentang tujuan hidup mereka dan mereka menganggap semua orang mempunyai derajat yang sama. "Generasi Kiwari ini tidak loyal terhadap tokoh. Tapi mereka sangat loyal dengan tujuan hidup mereka. Mereka dari lahir sudah egaliter,"ujarnya.

Hemat dia, generasi kiwari ingin mendengar tokoh agama yang tidak hanya berbicara tentang ketaatan, tapi tokoh agama yang mampu menghidupkan ruang-ruang persilangan budaya dan agama. "Tokoh agama yang dibutuhkan adalah yang bisa mengisi virtual mereka dan memberikan atau mengisi kebutuhan langsung mereka.Karena tokoh agama ini sering tampil melalui Google atau You Tube yang kerap hadir sehingga akrab dengan generasi kiwari,” pungkasnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya