Menhan Bahas Terorisme dengan Atase Pertahanan

Golda Eksa
23/1/2019 08:30
Menhan Bahas Terorisme dengan Atase Pertahanan
(MI/Susanto)

PEMERINTAH menyadari bahwa keamanan nasional menjadi bagian dari kepentingan strategis negara-negara lain.

Oleh karena itu, direktif pengembangan arsitektur pertahanan Indonesia pun telah diarahkan untuk merealisasikan stabilitas keamanan nasional yang kondusif bagi stabilitas regional dan global.

Demikian pernyataan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu di sela-sela acara Coffee Morning dengan 34 Atase Pertahanan Negara Sahabat, di Kementerian Pertahanan, Jakarta, kemarin.

“Direktif itu melalui pendekatan strategi pertahanan smart power, yang merupakan kombinasi sinergis antara pembangunan kekuatan hard power dan kekuatan soft power yang berlandaskan kekuatan hati nurani,” ujarnya.

Kemenhan pun terus ber­komitmen meningkatkan kemampuan industri strategis nasional guna menuju kemandirian industri pertahanan.

Diharapkan, Indonesia nantinya mampu memenuhi kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista), serta mampu menjual alutsista karya anak bangsa kepada negara-negara sahabat.

Menurutnya pemerintah bakal membuktikan berbagai produk alutsista buatan dalam negeri yang digunakan TNI memiliki kualitas serta kemampuan andal dan prima, khususnya dalam menguatkan sistem pertahanan di Tanah Air.

“Saya berharap para atase pertahanan yang bertugas di Indonesia dapat melihat dengan mata kepala sendiri kualitas produk alutsista Indonesia. Ke depan, Indonesia berencana untuk menjual produk alutsista tersebut kepada negara-negara sahabat.”

Ia menambahkan, saat ini di kawasan ASEAN terdapat 3 area kerja sama maritim yang disoroti dunia, yaitu patroli koordinasi Selat Malaka, maritim negara-negara di kawasan Teluk Thailand, dan trilateral di Laut Sulu.

Bahkan, ada wacana melibatkan Singapura, Thailand, Vietnam, dan negara ASEAN untuk menciptakan konektivitas kerja sama subregional.

Menhan Ryamizard juga telah mengeluarkan konsep kerja sama pertukaran informasi strategis kawasan bersandi Our Eyes yang melibatkan unsur militer dan jaringan intelijen bersama.

Kebijakan itu bertujuan untuk mengantisipasi tren perkembangan keamanan kawasan dalam kaitan ancaman terorisme dan radikalisme.


Kursus Lemhannas

Di sisi lain, dalam pendidikan reguler angkatan (PPRA) 59 Lemhannas, Gubernur Lemhannas Agus Widjojo mengatakan sikap kejujuran serta penerapan etika keprofesionalan penting dimiliki pemangku kebijakan strategis nasional.

Pasalnya, hal tersebut diharapkan mampu mentransformasikan pola pikir, pola tindak dan pola sikap, mental dan perilaku yang berdasarkan wawasan geopolitik dan geostrategi Indonesia yang holistik dan komprehensif.

“Sebagai kader tingkat nasional, kemampuan menjalin kerja sama dan jaringan setelah lulus merupakan keniscayaan yang tidak bisa diabaikan. Etika dan karekter kejujuran juga penting sebagai parasyarat utama dalam kepemimpinan,” ujarnya.

Menurutnya tujuan pendidikan di Lemhannas merupakan pelengkap kemampuan pengetahuan dan kompetensi para pimpinan tingkat strategis yang berwawasan nilai-nilai kebangsaan khususnya terkait para pemangku kebijakan strategis.

Nantinya, selama 7 bulan peserta akan menempuh pendidikan terkait konsensus dasar kebangsaan. (Njr/Ant/P-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya