Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERAN tokoh agama dianggap vital untuk meredam maraknya hoaks di kalangan masyarakat. Para tokoh agama dianggap mempunyai akses langsung ke masyarakat yang berada di lingkungannya.
"Hoaks dapat dibendung apabila tokoh agama ikut berperan dalam menghentikan penyebaran kabar yang masih simpang siur," kata mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD seusai dialog lintas agama di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, kemarin.
Dalam diskusi yang dihadiri para tokoh lintas agama, seperti Sekretaris Jenderal PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti dan rohaniwan Benny Susetyo itu terungkap, peranan tokoh agama di era 'banjir' informasi amatlah penting.
Apalagi, kecenderungan munculnya hoaks dalam era 'banjir' informasi sangat cepat dan dapat menyentuh kelompok masyarakat di tingkat bawah.
"Maraknya hoaks dapat secara cepat memengaruhi masyarakat di tingkat bawah. Ada kecenderungan masyarakat akan langsung memercayai hal itu," ujarnya.
Mahfud mengungkapkan para tokoh agama harus maju ke depan menjelaskan kepada publik untuk mengklarifikasi informasi yang beredar.
"Kita harus menyampaikan bahwa hoaks harus dilawan. Namun, negara juga harus ikut bertindak dengan hukum yang ada seperti menggunakan UU ITE," paparnya.
Menurutnya, maraknya hoaks akan berkurang apabila masyarakat tidak ikut menyebarkan. Namun, bila telanjur terjadi, pelaku harus ditangkap dan dihukum sebagai bentuk tindakan represif.
"Itu tangkap orangnya, termasuk elite politik yang terlibat, dihukum sesuai UU yang ada," tegasnya.
Mahfud juga mendorong peranan tokoh agama dalam mengajarkan nilai-nilai Pancasila. Dengan Pancasila, semua nilai dari seluruh agama sekaligus melindungi setiap pemeluknya sudah terangkum. Apabila hal itu diterapkan dan disosialisasikan, sejatinya tidak menimbulkan kegaduhan di masyarakat.
"Mari kita menganut hubungan dalam kemanusiaan, enggak usah mengaku paling benar. Yakin benar iya, tapi mengklaim paling benar itu yang tidak boleh," ungkapnya.
Pada kesempatan itu, Benny Susetyo menekankan pentingnya daya kritis masyarakat dalam merespons adanya banjir informasi dan hoaks.
Kesadaran kritis itu dapat dilakukan dengan tetap membandingkan suatu informasi dengan informasi lainnya.
Hal itu dapat mendorong agar sikap klaim-klaim kebenaran absolut tidak terjadi.
"Bagaimana membawa kesadaran kritis kepada umat agar tidak menebarkan kebohongan. Setiap agama mengajarkan untuk tidak memojokkan orang," ungkapnya.
Kurang diskusi
Abdul Mu'ti menuturkan maraknya hoaks saat ini karena adanya suatu kondisi dimana matinya kepakaran di masyarakat.
Kondisi ini, menurutnya, imbas dari sikap masyarakat yang jauh dari budaya komunikasi secara langsung. Masyarakat cenderung melakukan klaim-klaim absolut atas dasar konsumsi informasi yang hanya berasal dari satu sumber, baik secara literatur maupun sumber akses media.
Ia memandang perlu adanya tradisi komunikasi langsung antara tokoh agama dan masyarakat. Pasalnya, apabila hanya mengandalkan sumber media apalagi media sosial, nilai-nilai karakter tokoh agama yang akan dijadikan teladan menjadi berkurang.
"Karena itu, tidak ada lagi istilah musafir ilmu, kelemahannya ialah dia belajar agama, tetapi nilai kultural serta normanya tidak diperoleh," ungkapnya. (P-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved