JELANG Kongres Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di Bali pada 9 April mendatang, sosok Ketua Umum PDI Perjuangan saat ini, Megawati Soekarnoputri, masih menjadi figur kuat bagi kader partai banteng itu.
Mayoritas pemimpin PDI Perjuangan di daerah, baik dewan pimpinan daerah (DPD) maupun dewan pimpinan cabang (DPC) menginginkan Megawati memimpin partai tersebut kembali.
Demikian hasil sensus Centre for Strategic and Internasional Studies (CSIS) terhadap pemimpin daerah dan cabang PDI Perjuangan yang tersebar di 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota pada 16-19 Febuari 2015.
"Jika berbicara suksesi kepemimpinan, Megawati masih menjadi calon terkuat ketimbang calon lainnya," ujar peneliti CSIS Philips J Vermonte saat memaparkan hasil riset tersebut di Jakarta, kemarin.
Dari 467 DPC yang diwawancarai CSIS, sebanyak 320 DPC atau 68,55% masih menyebut nama Megawati sebagai calon Ketua Umum PDI Perjuangan periode 2015-2019.
Sebaliknya, 147 DPD atau 31,5% sudah berani tidak menyebut nama Megawati sebagai calon ketua umum.
Selain nama Megawati, muncul pula nama Presiden Joko Widodo yang dise but secara terbuka oleh 76 DPC (16,3%), Puan Maharani (5,4%), Ganjar Pranowo (3%), dan Pramono Anung (2,4%) sebagai kader yang berpotensi menggantikan Megawati.
Pengamat politik sekaligus peneliti senior CSIS J Kristiadi dalam kesempatan yang sama mengatakan sosok Megawati memang sudah dikultuskan sebagian kader untuk tetap memimpin partai tersebut.
"Jika ketua-ketua di daerah ditanya masalah integritas, mereka kurang mengerti. Tapi ketika ditanya soal Bu Mega, mereka tidak bisa mengelak lagi bahkan bisa menjadi pujaan," ujar Kristiadi.
Ketua DPP PDI Perjuangan Maruarar Sirait saat menanggapi hasil sensus tersebut mengatakan, meski internal PDI Perjuangan menginginkan Megawati maju kembali memimpin partai itu, bukan berarti tidak ada regenerasi di partai itu.
"Saya rasa di kongres 2020 nanti regenerasi kepemimpinan partai akan terjadi, 5 tahun waktu yang cukup," tukasnya.