Momentum Toleransi di Yogyakarta

(Pro/AT/P-1)
20/12/2018 13:00
Momentum Toleransi di Yogyakarta
(MI/ADAM DWI)

KASUS intoleransi yang terjadi di Purbayan, Kotagede, Yogyakarta, menyita perhatian publik ketika terjadi penolakan salib, doa-doa upacara keagamaan, dan ibadah mendoakan arwah terkait dengan meninggalnya Albertus Slamet Sugihardi.

"Terjadinya kasus tersebut mengindikasikan melemahnya basis sosial toleransi di Yogyakarta," ujar Direktur Riset Setara Institute Halili.

Hal itu juga menegaskan paradoks besar bagi Yogyakarta yang mengaku sebagai City of Tolerance.

Dalam perspektif kebinekaan dan kesetaraan hak konstitusional untuk memeluk agama secara merdeka, tindakan kelompok mayoritas itu tidak dapat dibenarkan.

Intoleransi yang terjadi seputar meninggalnya Albertus Slamet menyiratkan beberapa sisi minus. Di antaranya pengerasan konservatisme keagamaan sudah menjangkau lapis sosial terbawah, serta penguatan simbolisme keagamaan tidak hanya berdampak pada penebalan politik identitas, tapi juga penguatan kecemasan, ketakutan, dan keterancaman atas simbol-simbol identitas yang berbeda di masyarakat.

Mayoritarianisme selalu bekerja melalui penundukan kelompok minoritas dengan logika kerukunan.

Pernyataan bermeterai yang kemudian dibuat keluarga Slamet, baik dalam simulasi permintaan warga yang mayoritas maupun keikhlasan keluarga yang minoritas, merupakan penundukan kepada yang secara kuantitatif sedikit dan secara sosiopolitis lemah menggunakan logika kerukunan.

Indeks Kota Toleran 2018 yang dirilis Setara Institute beberapa waktu yang lalu memang masih mencatat masalah besar dalam praktik dan promosi toleransi di Yogyakarta. Karena itu, meski tidak lagi berada di 10 terbawah, Yogyakarta masih berada di klaster oranye dengan skor toleransi 4,883 dalam skala 1-7.

Kasus itu memantik komentar dari Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Menurutnya, kejadian tersebut bermula pada adanya salah seorang warga nonmuslim yang meninggal dunia di lingkungan warga yang mayoritas muslim.

"Masyarakat (mayoritas) muslim yang ada di situ, ada (yang meninggal) agamanya berbeda. Daripada (dimakamkan) di Mrican, mereka (keluarga dan masyarakat) sepakat dimakamkan di situ. Terus ada kesepakatan," kata Sultan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya