Meski Berbeda Pilihan, Masyarakat Diminta Ciptakan Pemilu 2019 Damai

Micom
19/12/2018 17:35
Meski Berbeda Pilihan, Masyarakat Diminta Ciptakan Pemilu 2019 Damai
(Ist)

MENJELANG Pemilihan Umum 2019 yang tinggal empat bulan lagi, kedua kubu baik dari pasangan calon nomor urut 01 maupun 02 melalui tim sukses masing-masing mengajak masyarakat untuk bersama-sama menciptakan pemilu yang damai, jujur, adil, dan berintegritas.

Ajakan ini penting dikeluarkan mereka meski berbeda pilihan. Salah satu alasan pentingnya imbauan pemilu damai 2019, menurut Ketua Presidium Perkumpulan Kotak Hijau, Fami Fachrudin, karena di tengah tingginya tensi konstentasi pemilu serentak yang diwarnai oleh masifnya isu hoaks, politisasi agama dalam pencapresan berpotensi memecah persatuan bangsa.

"Saya prihatin dengan kemunculan hoaks yang banyak terjadi di media sosial," ungkap, Fami yang kini memilih untuk menjadi relawan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01, dalam keterangannya, Rabu (19/12).

Ia juga menambahkan, biarpun kedua kubu capres-cawapres memiliki kesamaan religi dan menunjukkan kedamaian serta keakuran di antara keduanya saat bersama, tetapi itu belumlah cukup. Sebab, apa yang terjadi di kalangan elite belum tentu terimplementasi ke lapisan akar rumput (grass root).

Umat Islam sangat berpotensi untuk dipecah belah karena dalam struktur masyarakat kita sekarang ini masih primordial, di mana dalam kelas-kelas tertentu masyarakat masih mengikuti orang yang dianggap superior, misalnya ulama, ustaz, atau kiai. Ketika ustaz dan kiai berpolitik akhirnya yang terjadi adalah agama dipolitisasi, sehingga otomatis masyarakat terpecah-belah.

"Ustaz A mendukung Jokowi, ustaz B mendukung Prabowo, sehingga masyarakat terpecah belah. Mungkin antar-ustaz bisa duduk bareng, tapi yang di bawah tidak bisa duduk bareng," ungkap Fami yang sangat berharap Indonesia tidak seperti negara Suriah yang terpecah-belah karena faktor agama.

Lebih lanjut mantan pendiri Partai Gerindra yang kini berada di barisan relawan Jokowi ini juga mengatakan jika Pilpres hukumnya mubah sebab lebih bersifat keduniawian, karena itu ia mengingatkan kalangan ulama dan seluruh pihak untuk lebih berhati-hati dalam berkampanye yang terkadang menggunakan istilah-istilah keagamaan. 

Fami juga menyatakan dukungannya terhadap Polri yang dapat bekerja profesional dan netral serta dengan jumlah personel yang memadai bisa menjaga pemilu damai 2019 bersama seluruh pihak yang terlibat didalamnya.

"Masyarakat harus mendukung Polri dalam terlaksananya Pemilu 2019, saya juga optimistis Polri bersama seluruh pihak dapat bekerja dengan baik demi terlaksananya pilpres dan pileg yang damai di 2019," ujar Fami di kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (19/12).

Sementara itu, dalam pernyataan yang disampaikan oleh juru bicara nasional sekaligus Wakil Sekjen DPP Gerindra, Andre Rosiade, juga turut mengajak masyarakat untuk bersama-sama menciptakan pemilu damai tanpa perpecahan meski berbeda pilihan.

Andre yang juga menjadi Ketua Tim Juru Kampanye Nasional 02 mengajak masyarakat untuk bersama-sama memerangi isu hoaks, menangkal berbagai bentuk ujaran kebencian yang dapat menjadi celah bagi sekelompok orang yang tidak bertanghung jawab.

"Kita semua dirugikan oleh adanya isu hoaks. Karena itu hoaks harus diperangi dan dicegah," ajak Andre.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua DPP Gerindra, Abdul Hakam Naqib, yang berharap Pemilu 2019 baik pileg maupun pilpres dapat berjalan damai, jujur, dan adil, serta tanpa hoaks. 

"Pada saat kampanye hingga hari pemilihan umum 17 April 2019 dan sesudahnya, harapan kami adalah sudah tidak ada lagi hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi. Kita ingin Pemilu 2019 damai, siapa pun yang terpilih itulah yang terbaik," ujar Abdul Hakam yang juga menjadi calon anggota legislatif DPR RI untuk daerah pemilihan Jawa Tengah (Boyolali dan Cilacap) ini. (RO/OL-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya