Pemilu 2019 Ajang Kontestasi Paling Berat

Insi Nantika Jelita
19/12/2018 07:40
Pemilu 2019 Ajang Kontestasi Paling Berat
(Ilustrasi)

PEMILU 2019 dianggap yang terberat karena kali pertama pemilihan dilakukan secara serentak dan banyak hal teknis yang perlu dipersiapkan.

Hal itu diungkapkan Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk ­Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini dalam diskusi ­bertajuk Refleksi Akhir Tahun 2018, ­Kesiapan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Menyelenggarakan Pe­milu Serentak 2019, di Kantor KPU, ­Menteng, Jakarta.

“Pada 2018 itu menegangkan, 2019 itu menentukan. Ada kecemasan karena Pemilu 2019 berat untuk dijalankan, paling berat dalam hal teknisnya,” kata Titi.

Titi mencontohkan masalah surat suara. Hanya di Indonesia pemilih akan memilih peserta pemilu yang terbagi dalam enam posisi, yakni anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, DPRD kabupaten, dan DPRD kota, serta pasangan calon presiden dan wakil ­presiden.

“Ratusan calon, terbagi dalam lima posisi, akan dipilih dalam waktu yang bersamaan. Saat yang sama terdistribusi ratusan ribu TPS dengan pemilih 190 juta. Makanya, kita dikenal dengan the biggest one day election in the world,” ucap Titi.
Dia menambahkan hal teknis berupa anatomi wilayah Indonesia yang luas. Distribusi logistik setiap wilayah menjadi tantangan. Karena itu, perlu ke-siapan matang dari penyelenggara pemilu dalam hal ini KPU.

Titi menjelaskan dua hal penting yang harus dipegang dalam proses Pemilu 2019 mendatang. Pertama soal kepercayaan publik tentang informasi yang berkaitan dengan pemilu, kemudian legitimasi ­konstitusional.

“Pemilu itu dikendalikan supremasi konstitusional, fondasi kita menerjemahkan pemilu yang adil, bebas, dan demokratis. ­Kepercayaan publik dan legitimasi konstitusional itu fondasi penting penyelenggara pemilu, bukan sekadar pemilu, tetapi yang berdemokrasi,” kata Titi.


Telah siap

Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam pemilu serentak mengaku telah siap 90% untuk menyelenggarakannya. Hal tersebut disampaikan Ketua KPU Arief Budiman dalam diskusi yang bertajuk ­Ref-leksi ­Akhir Tahun 2018: Kesiapan KPU Menyelenggarakan Pemilu ­Serentak.

“Kalau dihitung 80%-90% sudah siap. Apakah KPU sudah siap ­strukturnya sampai yg paling bawah, dari personel KPU siap. Soal anggarannya, kalau personel kuat tapi anggarannya enggak cukup, enggak bisa juga. Selama ini ­anggaran cukup,” ujar Arief.

Sampai saat ini, kata Arief, ada beberapa provinsi yang masih proses rekrutmen anggota KPU, tapi semua masih bisa bekerja dengan baik. Pun dengan KPU di kabupaten/kota, diakuinya sudah siap dalam penyelenggaraan ­Pemilu ­Serentak 2019.

“Semuanya siap. Walaupun ­dalam waktu yang critical ini ­masih lakukan rekrutmen, dari personel KPU sudah siap. Kemudian juga sampai saat ini logistik seperti kotak suara itu sudah siap. Surat suara juga. Tapi beberapa formulir surat suara masih akan diproduksi Januari tahun depan,” tutur Arief.

“Distribusi sampai hari ini untuk kotak suara sudah 100%. Untuk bilik suara itu sebenarnya 5-6 hari lalu baru sampai 98,83%,” tukas dia.

Sementara itu, calon wakil ­presiden nomor urut 01 Ma’ruf Amin mengatakan kotak suara ­pemilihan presiden tidak perlu menjadi ­polemik sebab tidak pernah ada protes dari Dewan ­Perwakilan Rakyat (DPR) ketika kebijakan tersebut diambil pihak KPU.

“Karena dalam rapat DPR tidak ada protes, artinya sudah disepakati,” kata Ma’ruf di kediamannya di Jakarta. (MTVN/DW/P-3)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya