TGB: Hoaks Membuat Anak Bangsa Saling Benci

MICOM
11/12/2018 19:22
TGB: Hoaks Membuat Anak Bangsa Saling Benci
()

DI hadapan ratusan anak muda seluruh Indonesia, Tuan Guru Bajang (TGB) HM Zainul Majdi menyampaikan instrumen kultural bisa dijadikan dalam menangkal hoaks. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber Youth Conference Kupang 2018, di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengusung tema Kabar Bohong dan Ujaran Kebencian Tidak Keren, Anak Muda Bersama Melawan Kabar Bohong dan Ujaran Kebencian Untuk Indonesia Damai.

"Nilai agama dan nilai budaya, kalau diaktifkan itu akan jadi filter. Akan segan sebarkan hoaks, berlawanan dengan agama dan budaya," katanya, Selasa (11/12).

Baca juga: Edukasi tiada Henti bagi Kaum Milenial

Pola ini pernah diterapkan di Nusa Tenggara Barat (NTB). Saat itu, kerap terjadi pertikaian di NTB. Polisi turun tangan namun tetap saja keributan terjadi. Pendekatan struktural legal pun tak mampu kurangi konflik. "Kemudian dibentuk balai mediasi. Jika ada perselisihan tidak di aparat, dipakai mediator yang disepakati adat dan upaya ini terbukti berjalan baik," imbuhnya.

Mengenai hoaks, TGB memiliki pandangan luas, Indonesia terdiri banyak pulau dan memiliki suku yang beragam. Ini menjadi aset yang tak berwujud. Itulah yang mampu menyatukan Indonesia dan merekatkan persaudaraan.

Lebih jauh, menurutnya, hoaks ini berbahaya lantaran dapat membuat anak bangsa jauh dan saling membenci. Padahal, semua orang tak pernah dibesarkan dengan saling membenci. Dianggap bersaudara karena seagama, satu daerah, satu partai, bahkan satu pilihan capres."Adik-adik rela Indonesia ini melemah. Rela tidak batinnya anak muda saling jauh,  kalau saya tidak rela," imbuhnya.

Ditambahkan TGB, setelah mendiagnosa dan tahu persentase tentang hoaks. Harus dipikirkan, apa yang harus dilakukan anak muda untuk meredamnya. Diantaranya, yang perlu dilakukan anak muda, yakni membangun aliansi kebaikan.

"Ada guna tidak untuk orang lain? Ada hal yang kurang bermanfaat tidak? Kalau tidak, ya tidak usah disebar, ada yang buat keresahan sosial, itu harus dipikir. Anak muda adalah aset terbaik," tandasnya.

Sementara itu Pemred Pos Kupang Dion DB Putra menyebut digitalisasi membuat semua bermain dengan smartphone. Pengalaman hari ini adalah virtual. Interaktif dan cepat menjadi viral. Dahulu, media diproduksi oleh media. Hari ini tidak begitu. "Semua sekarang bisa jadi produsen, distributor sekaligus konsumen," katanya.

Data dari PWI, 27% hoaks tentang kesehatan. Apapun yang diperintahkan akan dipercaya.  Nomor dua adalah politik 22% dan diikuti 15% persaingan bisnis dan lainnya. "Media mainstream sebagai pembanding," imbuhnya.

Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol Jules Abraham Abast menambahkan bahwa 48% orang mudah percaya dengan berita hoaks kemudian ikut menyebarkan, 31% lainnya mengira bermanfaat, 18% mengira benar, dan 3% tahu (itu berita hoaks) namun tetap membagikannya kepada orang lain.

"Polisi tak hanya mengawasi dunia nyata, ada juga di dunia maya yang diawasi," tukasnya. (RO/OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya