Ancaman Serius bagi NKRI

Putri Rosmalia Octaviani
10/12/2018 10:00
Ancaman Serius bagi NKRI
(ANTARA/JEREMIAS RAHADAT)

PERISTIWA pembunuhan 16 pekerja PT Istaka Karya yang tengah membangun jalan Trans-Papua di Kabupaten Nduga harus menjadi peringatan keras untuk memperbaiki pengamanan di daerah rawan.
Anggota Komisi I DPR Arwani Thomafi mengatakan peristiwa tersebut menjadi ancaman serius terhadap kedaulatan NKRI dan jalannya program pembangunan di Papua yang tengah digalakkan pemerintah.

“Aparat harus tegas. Penyerangan ini harus dihentikan. Ja­ngan sampai negara kalah oleh teror gerombolan bersenjata yg mengancam NKRI,” ujar Arwani saat berbincang-bincang dengan Media Indonesia, kemarin.

Ia mendorong Polri dan TNI untuk meningkatkan pengamanan, khususnya di daerah zona merah, terutama di tempat-tempat proyek strategis yang potensi kerawanannya tinggi. Kejadian yang menimpa pekerja Istaka Karya harus menjadi sinyal untuk meningkatkan kewaspadaan.

Badan Intelijen Keamanan (Baintelkam) Polri dan Badan Intelijen Negara (BIN) juga didorong untuk meningkatkan deteksi dini khususnya di daerah-daerah rawan keamanan. Peristiwa itu tidak boleh membuat surut niat baik pemerintah untuk terus melanjutkan pembangunan di Papua dan daerah-daerah lain.

“Tentu dengan jaminan aparat keamanan agar peristiwa serupa tidak terjadi terhadap pekerja yang tengah membangun infrastruktur di Papua. Harus ada jaminan keselamatan dan keamanan bagi semua pekerja dan juga masyarakat di Papua,” tutur Arwani.

Anggota DPD RI asal Papua Charles Simaremare menduga terjadinya peristiwa tersebut disebabkan perusahaan yang mengadakan proyek di lokasi tersebut belum melakukan pendekatan kepada masyarakat sekitar.

Bahkan sejumlah perusahaan ia ketahui langsung mengirimkan pekerja mereka dari luar Papua ke daerah proyek tersebut tanpa didului proses pendekatan ke masyarakat.

“Di sana ada budaya pendekatan yang harus dilakukan, seperti buang pinang dulu ke para-para pinang. Apakah mereka sudah lakukan pendekatan itu ke tiap kelompok masyarakat, itu harus dipertanyakan,” ujar Charles.

Charles mengatakan proyek yang dilakukan pemerintah pusat memang kerap kali lupa untuk dilakukan dengan lebih dulu melakukan dialog dengan warga lokal. Hal itu membuat warga lokal merasa tertinggal.

“Warga harus diajak dialog dulu. Beri tahu apa manfaatnya jika dilakukan pembangunan. Libatkan mereka juga dalam proses, sebagai pekerja atau dengan menggandeng perusahaan lokal,” ujar Charles.

Dialog dan pendekatan dianggap Charles sebagai salah satu kunci pengamanan, selain dari penga­matan dan pengawasan intelijen. Hal itu harus dilakukan di seluruh lokasi proyek.

“Karena memang di Nduga dan sepanjang jalur Trans-Papua itu banyak zona merah. Aparat harus lebih teliti dan hati-hati. Harus bisa menyelesaikan dengan baik dan mendekatkan diri juga ke masyarakat sekitar,” Charles menambahkan.

Usut tuntas
Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) meminta agar aparat kepolisian segera mengusut tuntas kasus pembunuhan terhadap karya­wan PT Istaka yang membangun proyek jembatan jalan Trans-Papua di Kali Yigi dan Aurak, Distrik Yall, Kabupaten Nduga, Papua, Minggu (2/12).

“Kami mengimbau aparat negara agar bekerja secara profesional dan proporsional dalam menciptakan rasa aman dan damai bagi masyarakat Papua dan seluruh penduduk Indonesia di mana pun berada,” kata Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (MPH-PGI).

MPH-PGI juga mendorong aparat negara mengutamakan pendekatan kultural. (P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya