20 Tahun Sejak Orba Tumbang, IPK Indonesia Naik Hampir Dua Kali Lipat

Dero Iqbal Mahendra
04/12/2018 17:00
20 Tahun Sejak Orba Tumbang, IPK Indonesia Naik Hampir Dua Kali Lipat
(MI/RAMDANI )

PRESIDEN menyindir pihak yang menyampaikan bahwa tingkat korupsi di Indonesia sudah mencapai stadium empat. Menurut Presiden hal tersebut tidak ada, sebab jika melihat data dan angkanya posisi Indonesia sudah cukup baik.

"Dari 1998 ke 2018 loncatannya saya rasa sangat signifikan sekali. Dari yang terjelek di ASEAN (Indeks Persepsi Korupsi 20) menjadi ke IPK angka 37, ini patut disyukuri. Jangan sampai ada yang bilang korupsi kita stadium 4, tidak ada itu," tutur Presiden Jokowi dalam peringatan Hakordia di Jakarta, Selasa (4/12).

Menurut Presiden jika memang ingin membicarakan sesuatu sebaiknya disampaikan dengan angka-angka. Meski begitu Presiden menyadari bahwa capaian saat ini masih bisa lebih baik lagi sehingga perlu diperbaiki dan dibenahi untuk kedepannya.

Baca juga: Presiden: Hakordia, Momentum Evaluasi Pemberantasan Korupsi

Jokowi juga menegaskan bahwa pemberantasan korupsi tidak dapat dilakukan dengan hanya mengandalkan penindakan semata. Tetapi juga harus dibarengi dengan membangun sistem pencegahan yang baik secara bersama sama dengan upaya penindakan hukum bagi para pelaku korupsi.

Dalam kesempatan yang sama Ketua KPK Agus Rahardjo menjelaskan berdasarkan perkembangan selama ini ia mengakui perkembangan IPK Indonesia memang belum ideal sebagaimana diinginkan. Namun jika melihat rilis terakhir dari Transparency Internasional tentang IPK Indonesia dibandingkan dengan banyak negara lainnya mengalami penurunan seperti Malaysia, Filipina, Brazil, dan Kamboja.

Sebelumnya, saat menghadiri "The World in 2019 Gala Dinner" yang diselenggarakan majalah The Economist di Hotel Grand Hyatt Singapura, Selasa (27/11), Prabowo menyebut korupsi di Indonesia sudah seperti kanker yang stadium 4.

Akibat maraknya korupsi, Prabowo mengatakan, angka kemiskinan rakyat Indonesia meningkat. Sementara para elitenya justru hidup berkecukupan. Ia juga menyinggung soal rakyat yang mudah disuap untuk memilih calon tertentu dalam pemilu. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya