Efek Kontestasi tidak Perlu Ditanggapi Pesimistis

(*/P-1)
02/12/2018 07:45
Efek Kontestasi tidak Perlu Ditanggapi Pesimistis
(MI/ROMMY PUJIANTO)

PENELITI Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris mengatakan kekhawatiran berbagai pihak terkait dengan efek perpecahan dari kontestasi Pemilu 2019 tidak perlu direspons dengan nada pesimistis. Ia justru mengajak untuk menatap dengan optimisme yang tinggi.

Syamsuddin meminta masyarakat mencoba mengingat kembali perjuangan memelihara persatuan yang telah dilalui bangsa dari generasi ke generasi. Selain itu, bangsa ini telah memiliki modal masa lalu yang cukup baik untuk kembali diingat dan diimplementasikan seluruh lapisan bangsa. "Bangsa ini di masa lalu memiliki rekam jejak parpol dan tokoh bangsa yang baik," kata Syamsuddin dalam diskusi Temu Ilmiah Alumni FISIP Universitas Nasional, Jakarta, kemarin.

Karena itu, Syamsuddin meminta secara khusus kepada elite politik agar mampu meneladani sikap para pendiri bangsa yang berjuang menegakkan negara dengan pikiran dan tenaga.

Hal itu nantinya mampu menjawab krisis kepemimpin-an yang selama ini disematkan kepada elite politik.
"Jadi, selama ini banyak yang oportunis. Seharusnya para elite mampu mengha-dirkan semangat dan pikiran baru. Bukan hanya sebatas elektoral," tandasnya.

Syamsuddin menambahkan, di samping memantik para elite untuk bekerja bagi rakyat, ia juga meminta fondasi kebangsaan yang telah dirumuskan para pendiri bangsa, yakni Pancasila, tetap dijalankan dengan konsisten.

Menurutnya, Pancasila merupakan juru selamat bangsa dari kemajemuk-an elemen bangsa serta konflik kontestasi yang mengancam kehidupan bermasyarakat.

"Saya pikir bangsa ini selamat jika kita konsisten dengan itu (Pancasila). Keberagaman dan perberbedan tidak mungkin dihilangkan," tukasnya.

Pembicara lain, anggota DPR Mahfudz Siddiq, mengatakan konsep negara poros maritim dunia yang dikemukakan Presiden Jokowi diharapkan dilanjutkan serta tidak berimbas dengan ditinggalkannya identitas bangsa yang telah melekat, yakni sebagai negara agraris.

Mahfudz mengatakan siapa saja yang memenangi kontestasi harus memahami konsep negara Indonesia sebagai negara agraris. Jika kemudian konsep negara poros maritim dunia menjadi prioritas pula,

Mahfudz mengatakan harus melalui kajian mendalam disertai dengan pembenahan di beberapa sektor.
"Ide negara maritim dan agraris dikelola bersama-sama. Basis negara agraris diperkukuh. Lalu negara maritim juga harus dikukuhkan dan menjadi kerja bersama," kata Mahfudz.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya