Penataan Lebih Masif Mulai 2019

Rudy Polycarpus
26/11/2018 08:15
Penataan Lebih Masif Mulai 2019
PENINGKATAN SUMBER DAYA MANUSIA: Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) melakukan swafoto bersama Tim Kampanye Daerah (TKD) dan relawan di Palembang, Sumatra Selatan, kemarin. Presiden Joko Widodo mengungkapkan perihal kunci pembangunan kualitas S(ANTARA/NOVA WAHYUDI)

PENATAAN kualitas sumber daya manusia atau SDM akan dilakukan secara menyeluruh dan lebih masif mulai 2019. Di samping sektor kesehatan, pendidikan juga menjadi fokus pembenahan guna meningkatkan kualitas SDM.

Menteri Pendidikan Nasional Muhadjir Effendy mengatakan, pada 2019 diusulkan rekrutmen 72 ribu guru SMK yang berlatar profesional ini sebagai pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Mereka akan mengisi kebutuhan sebab saat ini hanya 37% guru SMK dari kebutuhan sekitar 90 ribu guru yang memiliki keterampilan dan kapasitas sesuai. Saat ini, baru 15 ribu guru SMK yang mengikuti program keahlian ganda dari Kemendikbud.

"Kita butuh 90 ribuan guru SMK yang punya keahlian produktif. Jadi in take-nya kita bisa ambil dari mereka yang sudah memiliki pengalaman kerja dari PPPK itu," ujarnya di Istana Bogor, Jawa Barat, pekan kemarin.

Adapun kurikulum pendidikan vokasi, menurut Muhadjir, sudah diganti dengan melibatkan dunia industri. Karena itu, saat ini sekitar 70% kurikulum keahlian diusulkan dunia industri dan dunia usaha termasuk sertifikasi lulusannya.

Selain itu, kementeriannya menyiapkan 3.000-4.000 SMK untuk direvitalisasi secara fisik. Sekolah kejuruan yang menjadi prioritas antara lain berkaitan dengan kelautan, pariwisata, pertanian, dan ekonomi kreatif.

"Termasuk peralatan-peralatan dari rekomendasinya dunia industri dan dunia usaha. Sehingga kemampuan siswanya sudah diakui perusahaan yang sudah punya nama, punya reputasi, sehingga memudahkan dia untuk mendapatkan kerja," imbuhnya.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo mengatakan, terdapat dua kunci pembangunan kualitas SDM. Pertama, perbaikan sistem pendidikan terutama melalui revitalisasi pendidikan vokasi yang disesuaikan dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi.

Hal ini sudah mulai dilakukan, tetapi belum dilakukan secara penuh dan besar-besaran. Perombakan baik kurikulum, penataan kompetensi, serta perbaikan kualitas guru-guru perlu dipercepat mulai tahun depan.

Kedua, peningkatan keterampilan pencari kerja juga pekerja melalui pelatihan vokasi dan program sertifikasi. Program ini melibatkan pemerintah, dunia usaha, dan dunia pendidikan. Termasuk melibatkan pesantren.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance ( INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai sekarang ini masih banyaknya skill mismatch antara vokasi perguruan tinggi dan apa yang dipelajari saat masih kuliah tidak implementatif di dunia kerja.

Menurutnya pekerja di Indonesia akan bersaing dengan robotik oleh karena itu kemampuan mendasar seperti matematika, membaca, dan science jadi modal utama yang sangat penting.

"Harus ada dari segi kebijakan yang tepat dari pendidikan untuk mendukung skill-skill mendasar," tegas Bhima. (Ins/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya