Foto Keluarganya Viral Hingga Dituduh Radikal, Ini Penjelasan Wiranto

Astri Novaria
19/11/2018 18:17
Foto Keluarganya Viral Hingga Dituduh Radikal, Ini Penjelasan Wiranto
(Foto Istimewa)

FOTO keluarga Menko Polhukam Wiranto saat pemakaman cucunya, Ahmad Daniyal Al Fatih viral di media sosial. Dalam foto tersebut, terlihat sejumlah anak dan cucu Wiranto ada yang mengenakan cadar serta ada pula yang bersorban. Menanggapi viralnya foto tersebut, Wiranto pun angkat bicara.

"Saat ada orang yang mencibir dan memfitnah, saya pun hanya tertawa, karena memang tidak perlu saya layani. Kamu boleh kenakan baju apa saja, selama kamu merasa nyaman tetapi yang penting janganlah penampilanmu hanya untuk pamer tentang ke-Islamanmu, karena kedalaman agamamu bukan diukur dari pakaianmu atau penampilanmu, tetapi akhlak dan perilakumulah yang lebih utama," ujar Wiranto dalam keterangan resminya yang diterima Media Indonesia, Senin (19/11).

Baca juga: Cucu Wiranto Meninggal Dunia

Untuk diketahui, cucu Wiranto yang bernama Achmad Daniyal Alfatih meninggal dunia pada Kamis (15/11) kemarin pada pukul 12.51 WIB. Cucu Wiranto yang masih berusia 1 tahun 4 bulan tersebut meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan terpeleset di kolam.

"Sekarang ini pada saat cucu saya Ahmad Daniyal Al Fatih (alm) meninggal dunia, ibu, ayah dan kakak- kakaknya mengenakan busana muslim yang bercadar, bersorban, banyak masyarakat terkejut, media sosial ramai membincangkan tentang mereka. Ada yang senang dan ada pula yang mencerca dengan prasangka dan  cara mereka. Bahkan mencoba menghubung-hubungkan dengan tugas dan jabatan saya sebagai Menko Polhukam," paparnya lagi.

Wiranto pun mengenang saat ananya yang bernama Zainal Nurizky meninggal dunia pada saat belajar Alquran di Afrika Selatan. Saat itu, ada sebagian orang yang mengatakan bahwa sang anak menganut Islam radikal, masuk Islam garis keras, kader terorisme, dan lain sebagainya.

"Padahal dengan kesadarannya sendiri dia minta ijin untuk keluar dari Universitas Gadjah Mada yang sangat bergengsi itu karena keprihatinan dan kesadarannya melihat perilaku sebagian generasi muda yang tidak lagi memiliki kepribadian yang tepuji," jelasnya.

Wiranto menceritakan sang anak mendalami Alquran untuk memantapkan akhlaq dan moralnya sebagai basis pengabdiannya ke depan nanti sebagai generasi penerus. Lewat internet, sambung Wiranto, dia memilih tempat belajar Al Qur’an yang bebas politik, Ponpes Internasional di wilayah Land Asia Afrika Selatan yang khusus untuk memantapkan pemahaman Alquran yang mengedepankan persaudaraan dan kedamaian.

"Bukan sekolah teroris. Sayang sekali baru satu tahun belajar dari 7 tahun yang harus dijalaninya, dia meninggal disana karena sakit, disaat membaca ayat-ayat suci," lanjutnya.

Wiranto juga menjelaskan tentang keluarga dan prinsip-prinsip kehidupan yang ia berikan kepada anak-anak dan cucu-cucunya. Saat ini di tahun 2018, ia sudah genap setengah abad (50 tahun) mengabdikan diri saya kepada Ibu Pertiwi. Terhitung selama 32 tahun dalam penugasan sebagai militer aktif dan sisanya 18 tahun dalam politik dan pemerintahan.

"Banyak yang telah saya lakukan untuk menjaga keutuhan, kedaulatan dan kehormatan negeri ini. Prestasi, pujian juga fitnah dan cercaan sudah tak terbilang banyaknya, namun tidak menggoyahkan kecintaan saya kepada negeri ini dan keyakinan saya tentang ideologi negara Pancasila, Saptamarga yang telah merasuk dalam jiwa raga saya," tegasnya.

Dengan modal itu, ia ajari anak-anak dan cucu-cucunya untuk merasa memiliki, mencintai, membela negeri ini dimanapun posisi mereka, apapun pekerjaan mereka.

"Karena disinilah kita dilahirkan, dibesarkan, dididik, mendapatkan kehidupan bahkan tempat peristirahatan yang terakhir. Jangan campur adukkan agama dengan ideologi negara, jangan jual agama untuk kepentingan politik dan jangan jual agama untuk mencari keuntungan finansial. Dalami agama untuk bekal di akherat dan memberikan kebaikan bagi sesama, bangsa dan negara” terangnya.

Pihaknya selalu memberikan kebebasan kepada keluarganya untuk menjadi apa saja dan melakukan apa saja sepanjang tidak keluar dari rambu-rambu kehidupan yang telah ia pesankan kepada mereka.  

"Saya selalu menekankan kepada mereka untuk berusaha memberikan kebaikan kepada negeri ini dan bukan malah merepotkan negeri ini," imbuhnya.

Wiranto juga mengaku beruntung pernah dipercaya menjadi Panglima ABRI/TNI tetapi tak seorangpun anak atau menantunya mengikuti jejaknya sebagai militer, atau menjadi rekanan untuk pengadaan Alutsista.  Begitu pun saat dirinya mendirikan partai Hanura, tak seorang pun dari keluarganya menjadi pengurus partai.

"Saya memang meminta dengan sungguh-sungguh kepada mereka untuk jangan sekali-kali memanfaat jabatan saya untuk kepentingan pribadi.  Saya bersyukur sampai detik ini kami sekeluarga masih dapat mempertahankan komitmen itu. Terimakasih kepada siapa saja di saat cucu saya Ahmad Daniyal Al Fatih (alm) meninggal dunia, telah memberikan atensi dan doanya. Semoga semua itu akan menjadi bekal yang menerangi jalan baginya untuk menghadap Tuhan Yang Maha Kasih, Amin," tutupnya. (OL-6)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya