Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
CALON Presiden (capres) Prabowo Subianto pernah mengatakan 99% orang Indonesia hidup pas-pasan. Prabowo mengatakan angka tersebut adalah data dan fakta yang telah diakui World Bank atau Bank Dunia.
Peneliti senior di Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM FEBUI) Febrio Kacaribu mengatakan omongan Prabowo tidak berdasarkan data valid. Sebab dari data mereka, justru sejak 2015 hingga 2018 tren ekonomi masyarakat Indonesia membaik.
"Itu tidak ada datanya. kalau beliau ada data ya bagus. Tapi dia tidak ada datanya. Dia yang bilag 99% hidup orang Indonesia pas-pasan itu tidak ada datanya . Kalau dia ada datanya saya ingin lihat," ujar Febio di Depok, Senin (12/11).
Menurut Febrio, data yang paling dekat untuk melihat tingkat konsumsi atau pengeluaran masyarakat yaitu melalui data gini koefisien. Data ini menunjukkan seberapa merata pengeluaran dari kelompok masyarakat yang berpendapatan berbeda.
"Dan sejak 2015 ke sini terus membaik. Dahulu 200-2015 memburuknya sangat tajam, khususnya karena komoditi boom. Ketika komoditi boom pendapatan sekelompok masyarakat sangat tinggi sementara sekelompok yang lain tidak mendapat keuntungan. Sehingga disparitas tinggi saat itu,"
Yang menarik, kara Febrio, sejak 2015-2018 pertumbuhan ekonomi juga bergerak membaik, dari 4,8% di 2015, 5% di 2016, 5,1% di 2017 dan nanti di 2018 diprediksi akan di 5,2%. Ketika ada perbaikan pertumbuhan ekonomi , kali ini tidak disertai dengan gini koefisien yang melebar. Padahal biasanya kalau ekonomi tumbuh ,gini koefisien akan memburuk.
"Ini tidak justru trendnya menurun. Ini bisa bersumber pada kebijakan populis Presiden RI Joko Widodo. Mulai dari program keluarga sejahtera, bantuan langsung non tunai,dana desa. Ini menolong terhadap pemerataan,"
Angka kemiskinan pun dalam tren turun. Memang,kata Febrio, jumlah rentan miskinnya yaitu pada porsi 40% ini harus juga diangkat agar tidak kembali ke bawah garis kemiskinan.
"Bukan angka kemiskinan saja yang harus turun tapi kerentanan dari masyarakat di sekitar garis kemisnkinan. Fokusnya di 40% garis termiskin. Kalau tidak, pertumbuhan ekonomi hanya terpusat di kota dan sektor bernilai tinggi. Sehingga masyarakat yang tidak terlibat banyak dengan pembangunan memang tertinggal dan harus ditolong," tukas Febrio. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved