Tudingan Operasi Intelijen dalam Penangkapan Rizieq, Moeldoko: Jangan Mengada-ada

Rudy Polycarpus
08/11/2018 18:55
Tudingan Operasi Intelijen dalam Penangkapan Rizieq, Moeldoko: Jangan Mengada-ada
(ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

KEPALA Kantor Staf Kepresidenan Moeldoko meminta kasus dugaan pemasangan bendera gerakan ekstrimis yang menimpa tokoh Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab, di Arab Saudi tidak dikaitkan dengan pemerintah Indonesia.

Ia membantah keterlibatan ada upaya pemerintah maupun intelijen dalam kasus tersebut. "Saya kira enggak sejauh itu, negaranya orang masak sembarangan. (Operasi) intelijen kok jelek banget," ujarnya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (8/11).

Rizieq Shihab ditangkap aparat keamanan Arab Saudi, Senin (5/11) sore waktu setempat. Ia kemudian dibebaskan dengan jaminan pada Selasa (6/11) pukul 20.00.

Alih-alih menyalahkan pemerintah, Moeldoko meminta Rizieq instropeksi diri. "Jangan mengada-ada. Kalau saya nih sebagai seseorang bertanya dulu, yang nggak senang sama gua siapa sih? Kan banyak juga gitu loh. Jangan dikit-dikit intelijen, dikit-dikit pemerintah. Bisa saja orang lain," katanya.

Bahkan Moeldoko menduga bisa saja yang memasang bendera ISIS, pendukung Rizieq sendiri. Namun Moeldoko tidak berkomentar lebih lanjut. "Bisa saja, tapi enggak tahu. Enggak ngerti," ujarnya sembari tertawa.

Sebelumnya, Fadli Zon menyebut yang terjadi kepada Rizieq itu merupakan fitnah keji. Karena rumah Rizieq terletak di lokasi umum, bisa saja orang lain yang memasang.

"Saya yakin apa yang terjadi pada Imam Besar Habib Rizieq adalah fitnah keji. Bisa saja orang masang bendera di luar tembok rumahnya, karena lokasinya umum. Ini kerjaan dasar 'intel'. Saya dapat pengaduan dari keluarga Habib pada Senin sore," kata Fadli dalam cuitannya, Kamis (8/11). (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya