Jokowi Minta Harga tidak Dipolitisasi

Rudy Polycarpus
05/11/2018 07:30
Jokowi Minta Harga tidak Dipolitisasi
MENYAPA WARGA: Presiden Joko Widodo menyapa warga saat mengendarai motor menuju Pasar Anyar, Tangerang, Banten, kemarin. Presiden Jokowi blusukan ke pasar untuk mengecek harga kebutuhan pokok dan mencocokkan dengan angka infl asi.(ANTARA/PUSPA PERWITASARI)

PADA kunjungan kerjanya ke Provinsi Banten, kemarin, Presiden Joko Widodo menyempatkan diri blusukan ke Pasar Anyar, Tangerang.

Dalam perjalanan menuju Pasar Anyar, Presiden mengendarai sepeda motor custom Kawasaki W175.

Di sepanjang jalan, warga antusias menyapa. Jokowi yang didampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Wali Kota Tangerang Arief Wismansyah, dan Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar membalas sapaan warga dengan lambaian tangan.

Setiba di Pasar Anyar pukul 06.33 WIB, Jokowi disambut riuh oleh para pedagang dan pembeli.

Calon presiden nomor urut 01 itu kemudian menghampiri pedagang sayur, buah-buahan, ayam, telur, hingga daging. Presiden berbincang dan bertanya tentang kondisi harga di pasar.

"Angka inflasi kita rendah, di bawah 3,5%. Saya ingin cek ke lapangan. Setelah cek, semua stabil," kata Jokowi seusai kunjungan.

Berdasarkan pengamatan Kepala Negara, harga sejumlah komoditas stabil, bahkan menurun. Misalnya, telur dari Rp30 ribu per kg menjadi Rp20 ribu-Rp22 ribu. Harga beras bervariasi Rp8.000-Rp12 ribu per kg tergantung pada kualitas. Sementara itu, harga tempe tetap stabil Rp5.000.

"Daging Rp120 ribu. Cabai Rp30 ribu. Padahal, kalau harganya naik, bisa Rp80 ribu," ujar Jokowi.

Fluktuasi harga di pasar, lanjut Jokowi, hal yang biasa. Dia berharap tidak ada pihak mengatakan hal yang sebaliknya. "Semua harga stabil. Satu-dua naik, fluktuasi biasa. Daging naik dikit, telur turun, biasa. Jangan teriak harga di pasar naik. Pedagang pasar marah enggak ada yang beli, iya ndak? Malah datang ke mal, supermarket. Jadi, kalau ke pasar, lihat fakta. Harga sampaikan apa adanya."

Jokowi mengemukakan hal itu menanggapi Sandiaga Uno ketika berkunjung ke Pasar Induk Brebes, Jumat (26/10).

"Ada pedagang yang mengeluh pasar sepi karena harga terus naik dan sulit dijangkau. Tentu saja, keluhan para pedagang ini akan kami benahi. Ekonomi menjadi salah satu prioritas kami. Kami optimistis dapat meraih suara di Brebes ini," kata Sandiaga.

Soroti impor

Prabowo Subianto kemarin menghadiri deklarasi Komando Ulama Pemenangan Prabowo-Sandi di Jakarta. Dalam kesempatan itu, calon presiden nomor urut 02 tersebut menyoroti kebijakan impor yang mencerminkan belum berdaulatnya perekonomian Indonesia.

"Saya bersaksi kalau saya dan Sandi menerima mandat rakyat, akan membuat Indonesia berdiri di atas kaki sendiri. Kita mampu mencapai swasembada pangan dan energi. Oleh karena itu, ke depan tidak perlu lagi kita impor 1,3 juta barel minyak," kata Prabowo.

Prabowo pun menegaskan dirinya tidak menepuk dada sebagai pancasilais. "Saya tidak pernah mengaku pancasilais, tetapi saya pertaruhkan nyawa untuk Pancasila."

Pengamat ekonomi India, Vasuki Shastry, yang mengikuti Ubud Writers and Readers Festival 2018 di Gianyar, Bali, pekan lalu, mengemukakan beberapa catatan kemajuan ekonomi yang dicapai Indonesia.

"Amerika, Eropa, dan Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi yang negatif. Namun, Indonesia justru mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi di atas 5%. Presiden Jokowi juga banyak membangun infrastruktur yang selama ini menjadi kelemahan Indonesia dalam persaingan global. Kini Indonesia menjadi salah satu anggota G-20 bersama dengan negara-negara maju lainnya," ungkap Vasuki. (Ant/X-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya