Idrus Akui Pernah Bertemu Kotjo Dua Kali

Dero Iqbal Mahendra
01/11/2018 19:34
Idrus Akui Pernah Bertemu Kotjo Dua Kali
(ANTARA)

MANTAN Sekertaris Jendral Partai Golkar Idrus Marham mengakui dirinya pernah bertemu pengusaha Johannes Budi Sutrisno Kotjo sebanyak dua kali. Dalam pertemuan pertamanya, Kotjo sempat membahas terkait proyek PLTU Riau 1 yang ia kerjakan.

Pertemuan tersebut dilakukan pada Maret 2018 di kantor Kotjo di Graha BIP, Jakarta pada Maret 2018. Pada pertemuan pertama tersebut, Idrus juga ditemani oleh mantan Wakil Ketua Komisi VII dari partai Golkar Eni Maulani Saragih. Idrus menjelaskan keduanya secara kebetulan bersama-sama ke tempat Kotjo, namun ia memiliki kepentingan yang berbeda dengan Eni.

"Eni ingin bertemu Kotjo membahas soal PLTU Riau 1, kalau saya mau bertemu terkait minta bantuan untuk pemuda masjid, karena mau Munas bulan April. Ini bukan rapat formal, tapi informal jadi lebih ke efektifitas saja," tutur Idrus dalam sidang kasus dugaan suap kasus proyek PLTU Riau-1 dengan terdakwa Kotjo di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (1/11).

Idrus mengaku pertemuan yang dilakukan di kantor Kotjo di lantai 8 di BIP adalah hal bisa, mengingat keduanya sudah dekat sejak lama. Dalam kesempatan itu, Kotjo sempat mengucapkan selamat kepada Idrus karena diangkat menjadi menteri.

Kotjo juga mengungkapkan Eni merupakan orang yang luar biasa karena pintar dan loyal. Menanggapi hal tersebut, Idrus membalas pujian dan mengatakan bahwa Kotjo lah yang luar biasa karena selain kaya juga dermawan banyak membantu orang.

"Saya selipkan kepentingan saya, abang belum beramal ke pemuda masjid, saya tahu bang Kotjo membina yatim piatu dan masjid. Ketika itu Kotjo berkata yaudah nanti itu," tutur Idrus.

Dalam pertemuan itu, menurut Idrus, Kotjo memang sempat menjelaskan sekilas terkait Proyek PLTU Riau 1 tersebut kepadanya. Kotjo ketika itu menjelaskan memang memiliki kerjaan listrik PLTU Riau 1 sejak 2015.
Kotjo menjelaskan, listriknya akan murah karena adanya investor dari luar dan tidak akan melibatkan APBN. Idrus memperingatkan Kotjo agar berhati-hati jika murah sering kali akan menjadi masalah, namun Kotjo menegaskan bahwa ia sudah berpengalaman di dunia usaha dan proyek ini dikerjakan secara terbuka.

Idrus menuturkan ketika itu Kotjo pun menantang agar mengundang KPK maupun Kejaksaan untuk mengawasi proyek tersebut dan mengklaim proyek tersebut halal."Bang Idrus, kalau makan saya sudah cukup. Ini bakti saya ke bangsa, ini murah bang," tutur Idrus.

Pada pertemuan kedua sekitar bulan awal Juni 2018 Idrus menjelaskan memang bertemu kembali dengan Kotjo, namun untuk kepentingan menanyakan terkait sumbangan Kotjo ke pemuda masjid, sedangkan Eni ingin meminjam uang ke Kotjo untuk suaminya. Idrus pun membantah dirinya meminta bantuan kepada Kotjo untuk Munaslub Golkar sebab pada saat itu Munaslub sudah selesai.

Menurut Idrus, uang itu akan digunakan Eni untuk kepentingan kampanye suaminya, Muhammad Al Khadziq yang mengikuti pemilihan bupati Temanggung, Jawa Tengah. Namun permintaan itu ditolak Kotjo lantaran perusahaannya tengah banyak pengeluaran.

"Pak Kotjo jawabnya simpel, 'Bu Eni mohon maaf cash flow saya terganggu dan harus kasih THR pegawai juga'," jelas Idrus.

Mantan Menteri Sosial ini juga mengaku pernah meminjamkan uang pada Eni karena tidak mendapatkan pinjaman dari Kotjo. Saat itu Idrus mengaku sedikit kesal karena sedang tidak punya banyak uang.

"Saya enggak punya uang, saya bukan pengusaha. Dia pinjam uang, akhirnya saya berikan apa adanya. Ini harusnya untuk berobat," ucapnya.

Dalam kasus ini, Kotjo didakwa memberikan uang Rp4,7 miliar ke Eni Maulani Saragih dan Idrus Marham agar meloloskan proyek PLTU Riau-1 dengan nilai proyek US$ 900 juta.

Kotjo didakwa melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 13 UU No 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 64 ayat 1 KUHP. (OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya