Putri Gusdur Memaknai Sumpah Pemuda Seperti Sajak WS Rendra

Insi Nantika Jelita
31/10/2018 21:02
Putri Gusdur Memaknai Sumpah Pemuda Seperti Sajak WS Rendra
(MI/ADAM DWI )

PERINGATAN Hari Sumpah Pemuda yang ke-90 pada tahun ini menjadi momentum untuk merefleksikan nasionalisme Indonesia. Koordinator Nasional Gusdurian Network Indonesia, Alissa Wahid, memaknai Sumpah Pemuda dengan merujuk pada sajak dari WS Rendra yang berjudul Seonggok Jagung.

"Bagi saya, sajak tersebut sangat istimewa karena selalu mengingatkan kita untuk mau berefleksi. Sebetulnya hidup seperti apa yang kita sedang jalanin dan jalan hidup apa yang kita pilih. Lantas bagaimana kita memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita,"ujar Alissa saat mengisi diskusi yang bertajuk Nasionalisme ala Milenial: Sebuah Disrupsi? di Gedung Widya Graha LIPI Lantai 1, Jakarta, Rabu (31/10).

Sajak Seonggok Jagung menurut putri pertama mantan presiden Abdurrahaman Wahid tersebut bisa dianologikan bahwa Seonggok Jagung ditangan seorang pemuda tamatan sekolah menengah yang mampu mengelola akan bisa menjadi apa saja, sedangkan seonggok jagung ditangan pemuda lulusan tinggi yang tidak mampu mengelola tidak akan menjadi apa-apa. Kemudian, di dalam diskusi Alissa menerangkan bahwa persamaan sumpah pemuda di tahun 2018 dengan tahun 1928 adalah adanya semangat gerakan, visi persatuan,penyatuan, pengorganisasian serta peloporan.

"Yang kita butuhkan adalah semangat gerakan. Kita juga bicara visi soal generasi emas dan 100 tahun Indonesia," tandasnya.

Alissa juga menjelaskan perbedaan sumpah pemuda ditahun 2018 dengan tahun 1928. "Landscape kita yang berbeda, kemudian globalisasi, demokratisasi di Indonesia membawa efek yang beda, serta percepatan teknologi informasi,"jelasnya

Berikut Sajak Seonggok Jagung karya WS Rendra yang dibacakan oleh Alissa saat mengisi diskusi LIPI:

'Sajak Seonggok Jagung'

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda
yang kurang sekolahan.
Memandang jagung itu,
sang pemuda melihat ladang;
ia melihat petani;
ia melihat panen;
dan suatu hari subuh,
para wanita dengan gendongan
pergi ke pasar
Dan ia juga melihat
suatu pagi hari
di dekat sumur
gadis-gadis bercanda
sambil menumbuk jagung
menjadi maisena.
Sedang di dalam dapur
tungku-tungku menyala.  
Di dalam udara murni
tercium kuwe jagung
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda.
Ia siap menggarap jagung
Ia melihat kemungkinan
otak dan tangan
siap bekerja

Tetapi ini :
Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda tamat SLA
Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.
Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.
Ia memandang jagung itu
dan ia melihat dirinya terlunta-lunta .
Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.
Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.
Ia melihat saingannya naik sepeda motor.
Ia melihat nomor-nomor lotre.
Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.
Seonggok jagung di kamar
tidak menyangkut pada akal,
tidak akan menolongnya.
Seonggok jagung di kamar
tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya.
Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.

Aku bertanya :
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya ?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya ?
Apakah gunanya seseorang
belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,
atau apa saja,
bila pada akhirnya,

ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata : “Di sini aku merasa asing dan sepi.”
(OL-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Astri Novaria
Berita Lainnya