Caleg Lokomotif Dongkrak Suara

Insi Nantika Jelita insi@mediaindonesia.com
28/10/2018 06:40
Caleg Lokomotif Dongkrak Suara
(MI/ADAM DWI)

CALEG masih berperan penting dalam Pemilu Legislatif 2019. Caleg bisa mendongkrak suara partai agar lolos ambang batas parlemen (parliamentary threshold) sebesar 4%.

Direktur Ekskutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini menilai pertarungan Pileg 2019 sengit lantaran ambang batas parlemen meningkat. Namun, jumlah partai peserta pemilu semakin banyak.

"Logikanya, jika peserta pemilunya semakin banyak, suara pemilih akan semakin tersebar. Dengan ambang batas 4%, bisa dipastikan pertarungan pileg ini akan sangat sengit," kata Titi dalam diskusi bertajuk Partai dalam Garis Ambang Batas di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, kemarin.

Berdasarkan hasil survei Po-puli Center, hanya ada lima partai yang diprediksi berada di atas garis ambang batas, yaitu PDIP, Partai Gerindra, Partai Golkar, PKB, dan NasDem, sedangkan 11 partai lainnya tidak memenuhi persyaratan ambang batas.

Menurut Titi, partai politik harus kerja keras untuk mengejar ambang batas. Salah satu kunci untuk mendongkrak suara partai berada di tangan caleg karena dalam pileg pemilih boleh mencoblos logo partai atau langsung mencoblos nama caleg ataupun keduanya.

"Jadi bisa saja pemilih tidak begitu suka dengan partai A, tetapi suka dengan caleg dari partai A, dia akan tetap mencoblos caleg dari partai A itu, maka suaranya tetap sah," kata Titi.

Dalam kesempatan yang sama Direktur Eksekutif Lingkar Ma-dani Ray Rangkuti menjelaskan kecenderungan pemilih untuk menentukan pilihannya.

"Memang perlu diperjelas kecendrungan pemilih seperti apa. Apakah memilih partai atau figur (caleg) khususnya dalam pileg. Kalau menurut saya, potensi pemilih saat ini ke partainya," jelas Ray.

"Potensi orang akan memilih partai karena jatah kursi yang lebih tinggi (di bangku DPR). Yang terpilih biasanya caleg dengan nomor urut satu atau dua di surat suara.''

Permasalahan lain dalam menentukan pemilih memberikan suara yang sah ialah pemilih tidak mau berlama-lama di TPS (tempat pemungutan suara) saat mencoblos.

"Pemilih itu kan enggak mau 10 menit di TPS. Secara teknis dipikirkan itu nanti oleh KPU. Sosialisasi juga penting kepada pemilih agar mereka paham saat mencoblos nanti." imbuhnya.

Gerus PKS

Dalam diskusi itu juga peneliti Populi Center Rafif Pamenang Imawan melihat Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi) dinilai bisa jadi ancaman soliditas inter-nal PKS. Keretakan soliditas ini ditandai dengan mundurnya kader PKS di sejumlah daerah.

"Kalau terkait dengan (kader) PKS yang keluar itu karena muncul faksi di PKS dan ini gerbongnya Anies Matta, yang kemudian keluar, dan membuat gerakan baru. Itu potensi besar menjadi pecahan PKS. (Garbi) ancaman soliditas," katanya.

Menurut Rafif, elektabilitas PKS cenderung turun bila dilihat dari hasil survei yang dilakukan. "Kalau dari survei kami, PKS masuk ke partai yang elektabilitasnya berada di bawah 4%," sambungnya.

Dari data survei nasional Po-puli Center, PKS pada survei Oktober memiliki elektabilitas 3%. Pada survei sebelumnya, elektabilitas PKS 3,8% pada Juli dan 3,6% pada Agustus 2018. Soliditas partai ini bagaimanapun juga jadi tantangan PKS karena ada faksi di dalamnya. (P-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya