Wiranto: Presiden Akui dan Percayakan Peran Santri

Golda Eksa
22/10/2018 19:27
Wiranto: Presiden Akui dan Percayakan Peran Santri
(ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

PENETAPAN Hari Santri Nasional merupakan bentuk pengakuan dan sejarah atas komitmen kebangsaan para santri dan ulama dalam mempertahankan dan mewujudkan cita-cita nasional. Pun tekad dan perjuangan santri dan ulama melalui resolusi jihad menjadi momentum penting untuk internalisasi gagasan dan paham kebangsaan, khususnya bagi Nahdlatul Ulama.

Selain itu, realitas tersebut juga dapat dinilai sebagai pengakuan negara atas peran santri yang mewakafkan hidupnya untuk perjuangan bangsa. Demikian dikatakan Menkopolhukam Wiranto melalui Humas Kemenko Polhukam.

“Oleh karena itu, melalui Hari Santri Nasional saya menyampaikan pesan bahwa Presiden dengan seluruh santri dan tokoh-tokoh Islam di seluruh Tanah Air untuk senantiasa menjaga semangat resolusi hijad sebagaimana yang diamanatkan oleh founding fathers ulama santri dan pejuang-pejuang Islam serta para tokoh-tokoh senior terdahulu Nahdlatul Ulama,” ujar Wiranto saat menghadiri peringatan Hari Santri Nasional, di Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (22/10).

Wiranto hadir untuk mewakili Presiden Joko Widodo sebagai inspektur upacara. Acara tersebut juga dihadiri tokoh NU sekaligus cawapres Ma'ruf Amin, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Panglima Besar Santri Indonesia Muhaimin Iskandar, Deputi VI Kemenko Polhukam Arief P Moekiyat, Danrem, Kapolda Jabar, Bupati Tasikmalaya, serta para santri dan alim ulama.

Wiranto mengatakan, Presiden Joko Widodo tak segan mempercayakan figur yang memiliki latar belakang santri untuk duduk di kursi menteri. Sebut saja Menristekdikti M Nasir, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, dan Menakertrans Hanif Dhakiri. "Bahkan sampai menggandeng Kiai Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden," kata Wiranto.

Menurut dia, kehadiran dan peran serta para santri dan alim ulama diperlukan dalam menjaga dinamika sosial politik yang sangat dinamis saat ini. Pun resolusi jihad yang digagas oleh para tokoh Islam terdahulu merupakan komitmen yang selalu relevan dengan konteks kekinian dan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia.

“Mencermati perkembangan sosial politik Tanah Air akhir-akhir ini, maka kehadiran dan peran serta para santri dan alim ulama akan semakin diperlukan dalam menjaga dinamika sosial politik yang sangat dinamis," ujar dia.

Ia mengemukakan, resolusi jihad pernah dikeluarkan oleh Rais Akbar Nahdlatul Ulama Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Resolusi itu mewajibkan seluruh umat Islam untuk melawan penjajah demi mempertahankan kemerdekaan.

Selain itu, imbuh Wiranto, resolusi jihad tentunya penting untuk diketahui mengingat ancaman terhadap bangsa Indonesia datang silih berganti sesuai dengan kondisi zamannya. Bila dulu ancaman nyata dari luar yang ingin kembali menjajah Indonesia, saat ini potensi gangguan persatuan bangsa bisa muncul dari kompetisi politik diantara sesama anak bangsa yang sering tanpa disadari menggiring politik kebencian, serta penyebaran hoaks yang bisa memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

“Bapak Presiden juga senantiasa berpesan agar para santri juga sekaligus turut menjaga persatuan bangsa serta melanjutkan perjuangan dalam mencapai cita-cita kemerdekaan dengan semangat ukhuwah islamiah, ukhuwah wathaniah dan ukhuwah basariyah,” pungkasnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya