Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KOMISI Pemberantasan Korupsi menggeledah tiga lokasi dalam penyidikan kasus dugaan suap terkait dengan pengurusan perizinan proyek pembangunan Meikarta di Kabupaten Bekasi.
“Penggeledahan dilakukan di Gedung Matahari Tower di Tangerang, di Dinas Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kabupaten Bekasi, dan rumah Bupati Bekasi,” kata juru bicara KPK Febri Diansyah di Jakarta, kemarin.
Pada Senin (15/10), KPK menetapkan Direktur Operasional Lippo Group Billy Sindoro, dua konsultan Lippo Group yakni Taryudi dan Fitra Djaja Purnama, serta pegawai Lippo Group Henry Jasmen sebagai tersangka dugaan suap. Mereka terjaring dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Minggu (14/10) hingga Senin (15/10) dini hari.
Billy dan rekan-rekannya diduga memberikan suap Rp7 miliar dari total commitment fee sebesar Rp13 miliar untuk mengurus sejumlah perizinan, di antaranya rekomendasi penanggulangan kebakaran, amdal, banjir, tempat sampah, hingga lahan makam yang diberikan melalui sejumlah dinas. Dinas dimaksud ialah dinas pekerjaan umum dan penataan ruang, dinas lingkungan hidup, pemadam kebakaran, dan dinas penanaman modal dan pelayanan terpadu satu pintu (DPM-PTSP).
KPK pun menetapkan Bupati Bekasi periode 2017-2022 Neneng Hassanah Yasin, Kepala Dinas PUPR Jamaludin, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Sahat MBJ Nahor, Kepala Dinas DPM-PTSP Dewi Tisnawati, dan Kepala Bidang Tata Ruang Dinas PUPR Neneng Rahmi sebagai tersangka penerima suap.
Komisi antirasywah menduga pemberian suap itu terkait dengan izin-izin yang sedang diurus pemilik proyek seluas 774 hektare yang dibagi dalam tiga fase, yaitu fase pertama 84,6 hektare, fase kedua 252,6 hektare, dan fase ketiga 101,5 hektare.
Realisasi pemberian sekitar Rp7 miliar itu melalui beberapa kepala dinas pada April, Mei, dan Juni 2018, terkait dengan rencana pembangunan apartemen, pusat perbelanjaan, rumah sakit, hingga tempat pendidikan.
Untuk menyamarkan nama-nama para pejabat di Pemkab Bekasi, para tersangka menggunakan sejumlah kata sandi antara lain ‘Melvin’, ‘Tina Toon’, ‘Windu’, dan ‘Penyanyi’.
Dalam OTT tersebut, tim KPK menyita barang bukti berupa S$90 ribu dan uang dalam pecahan Rp100 ribu berjumlah Rp513 juta. Tim juga mengamankan dua mobil Toyota Avanza dan satu Toyota Innova.
Kekayaan naik Rp9,3 miliar
Harta kekayaan Neneng Hassanah Yasin naik sekitar Rp9,3 miliar dalam setahun menjadi kepala daerah. Itu berdasarkan laman elhkpn.kpk.go.id tentang laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) pada 2016, ketika Neneng melaporkan harta ke KPK sebagai syarat maju dalam Pilkada Bekasi 2017.
Saat triwulan ketiga 2016, tercatat total kekayaannya mencapai Rp64,1 miliar. Setahun kemudian harta Neneng naik menjadi Rp73,4 miliar. Data itu telah dimuat di laman elhkpn.kpk.go.id tertanggal 13 Agustus 2018.
Harta kekayaan Neneng itu meliputi tanah dan bangunan Rp61,7 miliar, alat transportasi dan mesin Rp679 juta, harta bergerak lainnya Rp452 juta, kas dan setara kas Rp9,9 miliar, harta lainnya Rp2,2 miliar, sehingga subtotal hartanya mencapai Rp75 miliar lebih.
Namun, karena Neneng memiliki utang Rp1,6 miliar, setelah dikurangi menjadi Rp73,4 miliar. Perempuan dengan tiga anak dan tengah hamil itu merupakan petahana Bupati Bekasi yang mampu mempertahankan kursinya dalam pilkada serentak 2017. (Ant/P-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved