Selain Faktor Agama, Ekonomi dan Sosial Membuat Mayoritas Guru Intoleran

Dhika Kusuma Winata
16/10/2018 18:38
Selain Faktor Agama, Ekonomi dan Sosial Membuat Mayoritas Guru Intoleran
(Dok. MI)

PUSAT Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta merilis hasil survei terbaru mengenai pandangan keberagaman di kalangan guru muslim se-Indonesia.

Dari hasil survei, diketahui sekitar 63,07% guru memiliki opini intoleran. Selain karena faktor keagamaan, faktor ekonomi dan sosial dinilai berperan penting dalam pembentukan pandangan tersebut.

Direktur Eksekutif PPIM UIN Saiful Umam menyebutkan pandangan Islamisme menjadi salah satu faktor penting terkait dengan opini intoleransi dan radikalisme di kalangan guru.

Pandangan tersebut mengacu pada aspek bagaimana agar syariat Islam diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman radikal, kata Saiful, menekankan pentingnya syariat dijadikan sumber referensi utama dalam semua aspek kehidupan.

"Karena pandangannya yang demikian, para penganutnya cenderung bersifat tertutup, inward looking, dan eksklusif," kata Saiful dalam rilis survei di Jakarta, Selasa (16/10).

Sementara itu, Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Heru Purnomo, menyatakan faktor ekonomi bisa berkontribusi pada mengerasnya pandangan keagamaan guru. Pasalnya, kondisi kesejahteraan guru di Tanah Air masih belum merata. Hal itu membuat guru-guru mencari pandangan alternatif yang dinilai bisa membawa kondisi ekonomi yang lebih baik.

"Guru-guru banyak yang terobsesi dengan ide-ide keagamaan radikal yang menjanjikan kemakmuran dan sebagainya. Karena kesejahteraan mereka saat ini juga belum baik, lalu mereka berupaya mencari keadilan," ujarnya.

Faktor sosial juga dinilai berpengaruh dalam pembentukan pandangan intoleran di kalangan pendidik. Hal itu dikemukakan Ketua Yayasan Cahaya Guru, Henny Supolo. Menuut dia, guru yang memiliki opini intoleran cenderung minim mengalami interaksi sosial antarpenganut agama berbeda. Hal itu mengakibatkan tidak terjadinya dialog lintas penganut agama yang sebenarnya potensial menguatkan keberagaman.

"Ada faktor mereka tidak tahu dan tidak saling mengenal. Dalam ketidaktahuan itu, pengetahuan yang berbuah opini intoleran turun menurun lalu ditelan sebagai fakta. Ini membuat ruang perjumpaan antarpenganut agama sangat penting," ucapnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya