Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERNYATAAN Presiden Partai Keadilan Sejahtera Sohibul Iman yang mengizinkan para kadernya melakukan kampenye negatif sangatlah disayangkan oleh kubu Jokowi. Hal ini karena tak sesuai dengan iktikad bersama yang mau mengedepankan adu gagasan serta program.
Juru bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Ace Hasan Syadzily, mengatakan, PKS yang memiliki reputasi sebagai partai dakwah, harusnya mengedepankan kampanye positif bukan negatif. Namun justru menganjurkan kampenye negatif.
"Apa sudah kehilangan orientasi positifnya sebagai partai dakwah yang mengajak kepada kebaikan?" kata Ace kepada wartawan pada Senin (15/10).
Walau kampanye negatif itu dibolehkan, mengedepankan hal yang positif, jauh lebih baik daripada kampanye dengan tujuan menyerang. Karena, belum tentu masyarakat akan simpatik. Mereka lebih suka menebar kebaikan dari pada menjelek-jelekan.
Menurut Ace, harus menjaga suasana politik yang lebih sejuk bukan menebarkan kebencian apalagi cenderung untuk menyampaikan kebohongan.
"Yang ideal adalah bagaimana setiap partai memiliki visi, misi dan program yang ditawarkan kepada masyarakat tanpa harus menyerang dan menyinggung partai lain atau pemerintahan," ujarnya.
Sementara itu, pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wasisto Raharjo Jati, menilai, memang tidak ada kedewasaan dari elite politik. Kondisi seperti inilah yang akhirnya membuat saling menghujat satu sama lain.
"Ini agak disayangkan, karena menunjukkan sisi lemah namun dengan cara yang destruktif. Masalah ini yang jadi pemicu konflik," ungkap dia.
Menurut dia, berangkat inilah terjadi ricuh di kalangan pendukung serta simpatisan kedua kandidat capres-cawapres. Mereka ikut menjadi tak dewasa dalam berpolitik.
Wasisto menambahkan, perlu ada kedewasaan dari kalangan elite untuk saling menahan diri. Bukan cuma menyerang saja dan memanfaatkan momentum saat kompetitornya lemah.
"Seperti mengulang posisi Ahok (Eks Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama) diserang terus menerus, sampai lemah di mata publik. Pilpres ingin menduplikasi masalah itu," ujarnya.
Pengamat politik lainnya dari Universitas Trunojoyo Madura, Mochtar W Oetomo, menyarankan agar tim Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengubah narasi politiknya di Pemilihan Presiden 2019.
"Kalau seperti ini terus saya kira berat. Narasi mereka harus lah yang konkret dan kontekstual," tambah Mochtar.
Jika ingin memecahkan masalah rakyat kecil, seperti mengangkat tema kemandirian pangan, dan isu ekonomi mikro yang menyentuh masyarakat dan menjadi problem masyarakat, maka kedepankanlah masalah tersebut. Bukannya cuma mengkritik saja.
"Jangan hanya mengkritik tetapi tidak menyediakan alternatif. Harus segera berubah misalkan kalau kedaulatan pangan itu seperti apa. Misalkan mengkritik soal harga sembako yang tinggi terus solusi kongkrit seperti apa," tegasnya. (RO/OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved