Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
CALON Wakil Presiden (Cawapres) KH Ma’ruf Amin melanjutkan safarinya di Yogyakarta dengan mengunjungi kediaman mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif atau biasa yang dipanggil Buya Syafii, guna meminta masukan.
Kiai Ma’ruf mengatakan, dirinya merupakan sahabat Buya Syafii sejak lama. Belakangan, kedua tokoh itu juga sama-sama duduk di Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).
“Hari ini, siang ini saya bersilahturahim ke Buya Syafii Maarif. Beliau ini sahabat dekat saya, kebetulan bersama-sama di BPIP. Sama-sama anggota BPIP, cuma karena saya jadi cawapres, maka saya harus mundur dari BPIP. Itu aturannya,” ujar Kiai Ma’ruf dalam keterangan rilisnya, Jakarta, Senin (15/10).
Kemudian Ma'ruf mengatakan, banyak hal yang dibahas dalam pertemuannya dengan Buya Syafii. Tokoh Nahdatul Ulama (NU) itu mengaku meminta masukan dari Buya Syafii.
“Beliau memberikan kepada saya banyak hal. Karena saya memang meminta beliau memberikan saran. Kalau ini terpilih menjadi calon wakil presiden bagaimana, akan saya jadi bahan pertimbangan di mana saya bersama Pak Jokowi mengelola negara,” tutur Ma’ruf.
Selain itu, kata Kiai Ma’ruf, koleganya juga menegaskan bahwa menjadi wakil presiden berarti berlaku untuk seluruh rakyat Indonesia. Karena itu Buya Syafii juga berpesan ke Ma’ruf agar kelak jika terpilih menjadi wapres tetap menjaga kemajemukan.
“Walaupun bukan pendukung, katakan misalnya rival politik, tetap kita berlakukan yang sama. Dan juga harus merawat kemajemukan bangsa ini. Jangan sampai ada kelompok-kelompok yang didiskriminasi, tidak diberikan pelayanan. Itu saya kira sangat penting untuk menjaga dan merawat,” kata Kiai Ma’ruf menirukan pesan Buya Syafii.
Kiai Ma’ruf juga mendapat masukan agar sebagai tokoh NU tidak sekadar membawa jargon Islam Nusantara. Sebab, ada Muhammadiyah yang menyerukan Islam berkemajuan.
“Beliau (Buya Syafii) bilang jangan hanya Islam Nusantara, tetapi juga Islam berkemajuan yang menjadi motonya Muhammadiyah. Karena itu saya akan selalu membawa bukan hanya Islam Nusantara, tapi Islam berkemajuan,” ucap mantan rais aam PBNU itu.
Sedangkan Buya Syafii mengatakan, agama memang tidak bisa dipisahkan dari politik. Namun, katanya, semestinya agama menjadi panduan moral dalam berpolitik.
“Jadi agama jangan dijadikan kendaraan. Politik yang harus menjadi kendaraan moral. Idealnya begitu,” tuturnya.
Tokoh kelahiran 31 Mei 1935 asal Sumpur Kudur, Sumatera Barat itu lantas mencontohkan konflik di Jazirah Arab akibat politik agama. Buya Syafii mewanti-wanti agar konflik di Arab tidak dibawa ke Indonesia.
“Itu sangat berbahaya. Dan di sini juga ada pembelinya, kalau mereka enggak paham, mereka beli ide-ide khilafah, ISIS, itu kan enggak sehat. Masa peradaban yang jatuh mau dibawa kesini, bodoh namanya,” katanya.
Oleh karena itu Buya Syafii juga berharap agar Pilpres 2019 bisa berlangsung damai. “Harus damai. Kalau seumpamanya ada yang menghujat sepihak, yang lain lebih-lebih kalem,” ujarnya berpesan. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved