Politik Santun Dinilai Hilang di Medsos

Mal/AU/X-6
15/10/2018 08:05
Politik Santun Dinilai Hilang di Medsos
MUSABAQAH KITAB KUNING: Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (kanan) dengan didampingi Ketua Panitia Hari Santri PKB Jazilul Fawaid memberikan sambutan pada Pembukaan Musabaqah Kitab Kuning 2018 di Kantor Partai PKB, Jakarta, kemarin. Acara itu merupakan rangk(MI/M IRFAN)

KETUA Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar menilai, di era media sosial, politik sudah mulai kehilangan kesantunannya. Saat ini kebebasan berpendapat setiap orang dapat membentuk opini publik di media sosial.

"Politik yang santun hampir kehilangan tempat di era media sosial ini. Setiap saat ini media sosial siapa pun bisa memasukkan menjadi opini publik dan setiap saat bisa menjadi punya publik," ujar Muhaimin saat launching Musabaqah Kitab Kuning dalam rangka peringatan Hari Santri di Kantor DPP PKB, Menteng, Jakarta, Minggu (14/10).

Pria yang disapa Cak Imin itu menyayangkan kebebasan berpendapat di media sosial tidak diikuti dengan kesantunan oleh sebagian orang. Saling menghujat hingga menyebar kabar bohong kerap ditemukan di media sosial.

Ia kemudian membandingkan dengan masa sebelum era medsos dimulai. Ia mengatakan, dahulu setiap opini yang dipublikasikan melalui media konvensional dan melalui penyaringan di meja redaksi.

"Dulu ketika belum ada media sosial, orang harus masuk pemimpin redaksi, diolah oleh redaktur, dan seterusnya, dan seterusnya, mengalami proses dinamika diskusi," jelasnya.

Cak Imin kemudian menilai kehadiran santri disebutnya mampu membawa era media sosial tetap berada di jalur kepatutan dalam berekspresi.

"Namun, era medsos ini tidak ada yang lain bisa mengalahkan keadaan kalau santri mewarnai dan memberikan makna," ujarnya.

Di sini, kata Muhaimin, menjadi penting bagi kalangan santri untuk melibatkan diri dengan membawa nilai-nilai keulamaan, kesantrian, dan kepesantrenan di antaranya kebenaran, kesabaran, dan kejujuran.

Pada bagian lain, saat mengadakan kunjungan dan pertemuan tertutup dengan sejumlah ulama, cawapres KH Ma'ruf Amin meminta semua elemen bangsa agar tidak membawa agama dalam politik atau politisasi agama pada masa menjelang pelaksanaan pemilihan umum dan pemilihan presiden/wakil presiden.

"Masyarakat Indonesia kan plural, jangan membawa isu agama," katanya.

Yang harus dilakukan, menurut Ma'ruf, ialah menjaga bagaimana agar kita semua dapat menjaga keutuhan bangsa.

Ma'ruf mengemukakan hal itu saat mengunjungi tiga tempat dalam kompleks Pondok Pesantren Krapyak, di Desa Pnggungharjo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu (14/10). (Mal/AU/X-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya