Pancasila Ditinggalkan, Hoaks makin Dapat Tempat

Mirza Andreas
09/10/2018 19:26
Pancasila Ditinggalkan, Hoaks makin Dapat Tempat
(Dok. MPR)

LUNTURNYA pemahaman akan Pancasila sebagai dasar negara dituding sebagai pemicu kemerosotan integritas masyarakat dalam bernegara.

Wakil Ketua MPR Mahyudin dalam sosialisasi Empat Pilar MPR di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, Selasa (9/10), menyatakan kehidupan bernegara saat ini tengah menghadapi ujian berat lantaran lunturnya nilai-nilai Pancasila di kehidupan masyarakat.

“Kita lihat saja, masih banyak masyarakat yang percaya, bahkan ikut menyebarkan, kabar bohong (hoaks). Menyebarkan fitnah di sana-sini sehingga masyarakat terbelah. Ini karena kita tanpa sadar mulai keluar dari nilai-nilai Pancasila,” papar Mahyudin di acara sosialisasi yang digelar di aula SMKN 1 Tanah Grogot tersebut.

Diungkapkannya, lunturnya nilai-nilai Pancasila itu mulai terjadi justru ketika era keterbukaan dimulai di masa reformasi. Pancasila mulai ditinggalkan, bahkan kurikulum sekolah sampai menghapus mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila. Sehingga masyarakat, terutama generasi muda, tidak paham lagi akan moral Pancasila.

"Berkurangnya pemahaman Pancasila, ditambah era keterbukaan, masuklah berbagai pemahaman yang salah ke diri masyarakat. Misalnya saja pemahaman agama yang sempit akibat belajar agama hanya dari internet, bukan dari guru, ulama dan kyai secara langsung sehingga banyak salah memahami. Ini yang memicu terorisme selama ini," ujarnya.

Diutarakan Mahyudin, tantangan berbangsa dan bernegara lainnya juga datang dari eksternal yang merupakan ekses dari globalisasi. Ia mengingatkan ekses dari sebuah kemajuan teknologi informasi yang membuat persaingan global semakin sengit.

“Penjajahan asing tidak lagi datang dengan persenjataan berat, itu sudah ketinggalan zaman. Penjajahan sekarang datang dengan cara pembodohan lewat game online dan materi-materi internet yang tidak mendidik,” ucapnya.

‘Kalau semua itu kita telan mentah-mentah, tidak ada lagi Pancasila sebagai filternya, bersiap saja kita menjadi negara terjajah lagi,” imbuhnya.

Untuk itu, Mahyudin mengajak rakyat Indonesia, terutama generasi muda, agar bijak menggunakan teknologi informasi. Teknologi itu seharusnya untuk kebaikan dan mempermudah aktifitas.

“Juga harus pintar-pintar menyaring segala informasi, pastikan apakah itu hoaks atau fakta. Apalagi mendekati Pilpres 2019. Muncul berbagai kabar hoaks berisi fitnah dan adu domba,” terangnya

Khusus menyambut Pilpres 2019, ia berharap masyarakat memandangnya sebagai hajatan pesta demokrasi. Sebagaimana layaknya sebuah hajatan, pilpres harus menghadirkan kegembiraan dalam berdemokrasi, bukan justru perpecahan akibat perbedaan pilihan politik.

“Ini yang paling penting, pillih sesuai pilihan masing-masing tanpa harus berkelahi antarteman, antartetangga, antarkeluarga. Pilpres 2019 adalah pintu masuk untuk Indonesia dan untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia tanpa pandang bulu," tandasnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya