Relawan IS Jalani Deradikalisasi

MI/ BUDI ERNANTO
28/3/2015 00:00
Relawan IS Jalani Deradikalisasi
(MI/SUSANTO)
BADAN Nasional Penanggulangan Terorisme dan Kementerian Sosial akan membina 12 warga negara Indonesia (WNI) yang dideportasi dari Turki. Pembinaan merupakan upaya deradikalisasi atas mereka yang berencana untuk mengikuti keluarga yang telah pergi ke Suriah untuk bergabung dengan Islamic State. "Deradikalisasi dilakukan di rumah sosial di Bambu Apus, Jakarta. Kamis (26/3) kemarin ketika tiba di Jakarta, 12 WNI tersebut beristirahat di Markas Komando (Mako) Brimob di Depok. Pemeriksaan juga sempat dilakukan di sana," terang Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Komisaris Besar Rikwanto di Mabes Polri, Jakarta, kemarin.

Rikwanto menambahkan, tidak ada tindak pidana yang dilakukan 12 WNI itu. Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan di Mako Brimob, mereka mengaku hanya ingin menyusul keluarga. "Keluarga di Suriah pun tidak jelas lokasi pastinya. Mereka hanya tinggal tunggu dijemput di Turki," katanya. Menurut Rikwanto, masih ada empat orang lagi di Turki yang belum dideportasi. Alasannya ialah ada ibu hamil yang dalam waktu dekat akan melahirkan. Setelah proses persalinan di Turki selesai dan dianggap layak untuk bisa melakukan perjalanan dengan pesawat, mereka akan segera diterbangkan ke Tanah Air.

Staf ahli BNPT Wawan Purwanto mengatakan tujuan deradikalisasi mencegah para relawan ISIS membentuk organisasi kemudian menyebarkan paham radikalisme. "Karena kita punya pengalaman waktu kepulangan para alumnus Afganistan yang kemudian menciptakan teror. Ini lebih berbahaya daripada penyerangan ISIS secara langsung," ujarnya. Sementara itu, Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT Mayjen TNI Agus Surya Bakti mengatakan instrumen radikalisme sudah bergeser dari rumah ibadah dan tempat pendidikan ke internet. Internet, kata dia, merupakan instrumen efektif untuk menyebarkan radikalisme karena lebih mudah diakses. Agus menduga WNI yang menjadi relawan
ISIS merupakan korban penyebaran lewat dunia maya. "Media sosial membuka ruang tertutup menjadi terbuka. Tak mengherankan jika beberapa remaja 18-25 tahun bergabung dengan ISIS karena pengaruh propaganda media sosial," ujarnya.

Ditahan
Dari hasil pemeriksaan terhadap lima orang yang ditangkap pada pekan lalu di Jakarta, Bekasi, Bogor, dan Tangerang, ada empat orang yang dinyatakan sebagai tersangka dan telah ditahan. Satu orang bernama Y dikembalikan ke keluarganya. "Tiga orang yang ditangkap di Malang, Jawa Timur, masih diperiksa 3 x 24 jam," ujar Rikwanto. Kemarin, sekitar 20 anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror menggeledah rumah terduga anggota gerakan pendukung IS berinsial RS, 40, di Desa Mangunsari, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Operasi penggeledahan dilakukan hanya selang beberapa jam setelah penangkapan RS oleh tim Densus 88 Antiteror di tepi jalan raya, tak jauh dari kediaman terduga anggota ISIS tersebut. "Penangkapan terduga ISIS berinsial RS ini merupakan hasil pengembangan dari penggerebekan serupa di Malang," terang Kapolres Tulungagung AKB Bastoni Purnama saat dikonfi rmasikan seusai penggeledahan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya