Charta Politica: Gunakan Strategi 4C untuk Rebut Suara Milenial

Golda Eksa
22/9/2018 16:54
Charta Politica: Gunakan Strategi 4C untuk Rebut Suara Milenial
(ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

SUARA pemilih muda sangat potensial dan selalu menjadi rebutan dalam ajang pesta demokrasi. Kelompok milenial tersebut sangat dinamis, sehingga pola pendekatannya pun harus kekinian dan tidak melulu menggunakan bahasa politisi.

Demikian dikatakan Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya ketika dihubungi Media Indonesia, Sabtu (22/9). Menurut dia, strategi meraih suara pemilih muda bisa diatasi dengan menerapkan rumus 4C (critical voter, change, communicative, dan community).

Pertama, critical voter. Pemilih muda adalah kelompok yang paling kritis. Ibarat dalam segmen keluarga di era digital, sambung dia, anggota keluarga yang paling pintar ialah anak ketimbang ayah dan ibu mereka.

"Anak muda paling mengerti menggunakan aplikasi atau instrumen pencari informasi di internet. Mereka haus informasi, paling kritis, dan paling bisa membedakan janji yang bisa dipercaya atau tidak," ujar Yunarto.

Kedua, sambung dia, memahami isu yang disukai atau change. Anak muda sangat dinamis dan cenderung berharap perubahan selalu ada. Realitas tersebut merupakan tantangan bagi incumben yang berniat berlaga di pilpres, pileg, dan pilkada.

"Tidak bisa mereka (kandidat) berbicara atau kampanye mengenai apa yang sudah dilakukan. Anak muda dengan isu perubahan tetap menginginkan perubahan apa ke depan yang dijanjikan. Itu karena isu perubahan yang selalu hadir di pemilih muda yang dinamis."

Berikutnya, tambah dia, communicative atau gaya bahasa apa yang harus digunakan. Solusi terbaik ialah menggunakan bahasa anak muda yang dinilai simpel dan mudah dipahami. Jangan pula menggunakan bahasa-bahasa politisi yang terkesan normatif ketika membuka ruang dialog.

"Keempat, melalui instrumen apa mereka mudah didekati? Yaitu community. Anak muda sekarang tidak bisa dianggap lagi anak muda yang bisa didekati lewat ayah dan ibunya. Mereka independen, jadi yang mereka dengarkan adalah orang-orang yang dianggap satu komunitas, seperti komunitas hobi, musik, olahraga, dan sebagainya," pungkasnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya