Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KAMPUS Bela Negara Universitas Pertahanan ikut memperingati Hari Perdamaian Dunia Ke-70 di Kompleks IPSC, Sentul, Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, kemarin. Tema yang diangkat ialah The right to peace-The Universal Declaration of Human Rights at 70.
Dalam kesempatan itu, pihak kampus juga menggelar seminar internasional dengan menghadirkan sejumlah narasumber berkompeten, di antaranya Haffid Abbas (Ketua Komnas HAM 2014-2015) dan cendekiawan Franz Magnis-Suseso.
Plt Rektor Universitas Pertahanan Dadang Gunawan mengatakan Hari Perdamaian Dunia kali ini difokuskan pada penumbuhan kesadaran dan penggugahan semangat memperjuangkan hak asasi manusia. Salah satunya hak untuk mendapatkan perdamaian.
"Salah satu program studi di Univer-sitas Pertahanan ikut berpartisipasi menyatakan dan menyerukan bahwa perdamaian dunia adalah hak segala bangsa. Itu merupakan dasar kebutuhan bersama," kata Dadang saat memberikan sambutan.
Ia menambahkan seminar itu sebagai pengabdian kepada masyarakat sesuai salah satu dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. "Sebenarnya bukan kampanye damai, melainkan keterpanggilan Universitas Pertahanan untuk bersama-sama seluruh komponen agar pemilu diharapkan penyelenggaraannya berjalan dengan damai," lanjut dia.
Dalam pemaparannya, Franz Magnis-Suseno mengutarakan Indonesia sudah sering menggelar pemilu dan selalu berlangsung damai. Ia pun optimistis perhelatan Pilpres 2019 akan berjalan damai. Soal isu SARA dan isu agama, ia berpendapat sudah tidak pantas lagi digunakan.
"Ini tentu sesuatu yang tidak saya harapkan karena dari sudut agama tidak ada alasan untuk membedakan di antara mereka yang terlibat dalam pemilihan-pemilihan itu," kata Franz Magnis-Suseno.
Ia menyatakan, jika agama dipakai sebagai alat politik, hal itu secara tidak langsung hendak mengatakan bahwa pihak lawan menjadi tidak beragama.
"Itu sama sekali tidak baik. Jadi saya mengharapkan bahwa masalah-masalah identitas agama tidak masuk pemilihan ini. Karena di pemilu nama atau orang yang muncul, identitas agamanya sudah jelas," ungkap-nya.
Menurutnya, penggunaan sentimen agama dalam pemilu merupakan sesuatu yang tidak masuk akal. "Kita mengharapkan bahwa dalam kompetisi yang dimajukan adalah masalah pembangunan, masalah kemajuan, masalah penanganan ketertinggalan atau mereka berjuang cukup, dan sebagainya. Itu yang nyata," katanya.
Selain seminar internasional, Universitas Pertahanan juga melakukan pembacaan deklarasi perdamaian yang mengecam segala bentuk keke-rasan dan kesewenang-wenangan yang terjadi di seluruh dunia.
Mereka juga menyerukan pengha-pusan segala bentuk diskriminasi yang terkait suku, agama, dan ras, serta mengedepankan saling menghargai dan menghormati.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved