Ijtima Ulama II Hanya Legalisasi Politik Praktis Prabowo-Sandi

Dero Iqbal Mahendra
15/9/2018 19:03
Ijtima Ulama II Hanya Legalisasi Politik Praktis Prabowo-Sandi
Ketua Umum Parta Gerindra Prabowo Subianto (kedua kiri), saat menghadiri acara Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional di Jakarta, Jumat (27/7/2018).(ANTARA/Rivan Awal Lingga)

KETUA Presidium Aksi Bela Islam, Kapitra Ampera menyatakan hasil Itjma Ulama II besok hanya akan menjadi alat legalisasi dukungan bagi Prabowo - Sandiaga. Dirinya pun mengaku tidak habis pikir mengapa setelah dikhianati dari putusan Itjma Ulama I pada kegiatan II nanti malah kompromistis dengan tetap mendukung Prabowo.

"Bahkan ketika usulan nama ulama pertama tidak diterima Prabowo, mereka sempat menawarkan nama Aa gym dan Arifin Ilham, itupun tidak direspon dan tetap mengambil nama lain. Kalau begitu kalau konsisten dengan kata ulama di Itjma ulama maka seharusnya mendukung nama Ma'aruf Amin sebagai wapres," tutur Kapita dalam konferensi persnya di Jakarta, Sabtu (15/9).

Namun dalam perkembangannya diriny a melihat bahwa Itjma ulama ke II nanti hanya akan menjadi alat legalisasi bagi Prabowo - Sandi tanpa menghiraukan keputusan dari Itjma ulama yang pertama. Untuk itu menurutnya hal tersebut tidak konsisten dengan semangat mendukung ulama dan sebaiknya dibubarkan saja.

"Saya minta batalkan Ijtima Ulama II kalau cuma mau dukung Prabowo-Sandi dengan hanya diikat kontrak politik. Antum pasti kecewa," tegas Kapita.

Menurut dirinya dalam Itjma ulama ke II ini hanya akan kompromi atas keinginan dari pribadi dan tidak mendukung semangat untuk mendorong para ulama dan umat. Dirinya pun mengaku tidak percaya Prabowo akan mengikuti dan menjalankan kontrak politik yang nantinya akan ditanda tangani pada Itjma ulama ke II, sebab keputusan Itjma Ulama pertama saja tidak dijalankan.

Menurutnya kontrak politik itu tidak akan memiliki dasar hukum apapun dan tidak dapat mengikat apapun. Menurut Kapita Itjma ulama ke II ini bila konsisten dengan semangat awal maka dukungannya seharusnya mendukung Jokowi-Ma'ruf Amin karena dia ulama.

"Bagaimana mungkin Itjma ulama justru memilih yang bukan dari ulama dengan hanya diikat oleh kontrak politik. Kalau kontrak politik diilanggar tidak ada konsekwensi," tutur Kapita

Menurutnya gerakan awal yang merupakan gerakan membela islam dalam hal hukum kini telah bergeser menjadi gerakan politik justru membelenggu. Kapita mengaku tidak terfikir pada akhirnya gerakan yang ada justru dibelokkan untuk membenci Jokowi dan lawan lawan politik.

Dirinya pun sedih melihat sejumlah ulama justru menggunakan bahasa bahasa yang kasar dan tidak pantas dalam menyatakan pandangannya. Padahal menurutnya ajaran islam itu lembut dan santun bahkan tidak diperkenankan menyakiti orang lain, tetapi saat ini justru banyak bully yang dialamatkan kepada Ma'ruf Amin.

Dia juga meminta GNPF Ulama berpedoman kembali pada kitab suci Alquran. Menurutnya, bila Ijtimak Ulama II hanya digelar untuk mendukung Prabowo-Sandi maka umat Islam telah terpolarisasi untuk kepentingan politik tertentu.

"Kembali ke Alquran. Kalau hanya untuk mendukung Prabowo-Sandi berarti umat Islam ini terpolarisasi dan tertipu dalam pilihan politik," pungkas Kapita.

GNPF Ulama akan menggelar Ijtimak Ulama jilid II pada Minggu (16/9) untuk menentukan sikap dan arah dukungan para ulama terkait Pilpres 2019 mendatang.

Ketua GNPF Ulama Ulama Yusuf Muhammad Martak mengatakan kegiatan yang akan dilaksanakan satu hari penuh itu sedikitnya akan mengundang 1000 orang ulama dan tokoh nasional. Prabowo-Sandi pun dipastikan akan ikut hadir bersama sejumlah sekjen partai koalisinya di acara ini.

Nantinya para ulama akan membahas sejauh mana peran mereka utuk memenangkan pasangan ini serta komitmen dari Prabowo dan Sandi. Jika kedua pihak sudah setuju maka akan diakhiri dengan penandatanganan pakta integritas oleh pasangan calon presiden. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya